Ode for Mother (2) – Kuku

Standar

Rough Sketch - Mangku

digitally painted with: paint tool SAI

Ibu apa kabar? Ibu masih di rumah sakit? Kuku sekarang udah dua tahun.

Kuku udah bisa manggil “abang nyala” bukan Bapi. Tapi masih bingung kalau ditanya.

Yaya: Kuku itu siapa namanya (nunjuk nyala)

Kuku: Abang Nyala

Yaya: Kalau itu kamar siapa? (nunjuk kamar nyala)

Kuku: Kamar Bapi

Ayah, Yaya (Aura) sama Ican (Lintar) suka ketawain kuku habis itu. Kuku ikut ketawa aja.

Kuku sekarang udah pinter, udah mulai belajar baca, udah tau huruf A. Udah mulai belajar ngaji dari upin-ipin, udah diajarin angka juga sama Yaya pake lagu.

Kuku kalau nonton gak boleh diganggu, kuku sukanya nonton upin-ipin, paw, thomas, Jarwo sama Jet.

Kuku suka main sama yaya tapi kuku gak mau kalah sama yaya, karena kuku udah gede.

Kuku seneng lari-lari, kuku sekarang gak mau digendong, kuku udah bisa jalan sendiri.

Karena Ibu masih sakit, sekarang kuku jadi anak Ayah, nempel terus sama Ayah.

Kuku kadang-kadang males makan, terus bikin Ayah pusing karena kuku gak mau makan nasi, tapi kuku udah makan Ayah! (makannya kemarin), yang penting kuku minum susu.

Kalau diajak solat sama Ayah kuku maunya main dulu, mau solatnya sama Yaya aja.

Kadang-kadang kuku nyariin Ican, “Ican kapan pulangnya?”, Ican di Depok sekolahnya jauh.

Udah dulu ya Bu, Kuku mau main dulu, main masak-masakan.

 

(ditulis di Depok, 22/8/2016 dan menunggu 4 bulan untuk dipublish pada momen hari ibu)

Mencari Ruang Publik Jakarta

Standar

Saat jiwa merasa dahaga, carilah kesejukan! Berjalanlah ke tengah kota, melewati satu-dua kebisingan dan labirin gedung-gedung tinggi. Sampai akhirnya engkau menemukan keramaian. Lalu engkau mungkin merasa kebingungan dan memilih sendiri.

Alih-alih memilih menyendiri, sebenarnya yang ada hanyalah rasa takut.

Ketakutan untuk terhubung (satu sama lain).

Karena akhir-akhir ini mungkin kita lebih akrab dengan layar-layar kecil yang menunjukan dunia. Tetapi tetap saja, itu bukanlah dunia sebenarnya. Dibandingan dengan hanya merasakan setetes dua tetes atau sekedar membasahi kaki. Kenapa tidak menggelamkan diri dalam ruang publik?

Pertanyaannya,

“Masihkah ada ruang publik di Jakarta?”

OP-Goes To Monas

Menuhin panggilan   Pesona Fortuna  Orang Kota  Model-PenjualxGigit SedotanTerbang Tinggi

Mengukur AnginLepas LandasMari kemari

Merakit Senyuman   Main Gelembung Peninggalan Manusia PulangJakarta, dimana langkah kaki dan detik waktu berkejaran tanpa akhir. Berlari nampaknya adalah satu-satunya opsi. Namun, selalu ada pilihan untuk berhenti sejenak.

Dibalik semua ruang yang telah terkomodifikasi di tengah kota ia masih berdenyut. Pssst… ruang publik itu masih hidup.