Margonda dan Hierarki di Jalan

Standar

Jalanan seringkali menjadi potret ketidak-adilan hidup di kota-kota besar. Radjimo Sastro Wijono (2016) mengatakan bahwa terdapat hierarki pada (kehidupan) jalanan. Hierarki dapat kita pada siapa yang dapat mengakses jalan. Jalanan merupakan panggung yang mempertujukan kelas sosial. Siapa yang ada di tengah jalan? Mereka yang punya, yang bisa membeli kendaraan. Dan pembangunan selalu berangkat dari kepentingan mereka yang tengah jalan.

Hierarki ini kemudian menjelaskan bagaimana hak masyarakat atas kota (dan jalan) dan pemenuhannya oleh negara (melalui agen pemerintah-nya). Juga menjelaskan ketidak-adilan dalam pembangunan bagi masyarakat. Hal ini tergambar jelas dalam beberapa kebijakan, terutama yang ada di Depok karena kita menyoroti Margonda.

Wah, Depok macet! Apa solusinya? Pelebaran Jalan. Untuk siapa pelebaran jalan? Untuk mereka yang ditengah jalan tentunya. Ruang-ruang kehidupan yang ada di pinggir jalan yang menghambat lalu-lintas juga tentu harus ditertibkan. Sekali lagi, untuk mereka yang ditengah jalan. Hei ada! Pejalan kaki, mereka butuh udara segar. Ya.. Siapa suruh jalan kaki. Pejalan kaki, termasuk para penyebrang jalan (dan pedagang asongan, penjaja makanan, anak yang hidup dijalan, dsb.) merupakan kasta kelas dua di jalanan. Sebagaimana nasib kasta kelas dua di negara-negara yang dikategorikan berkembang, seringkali tidak sadar menjadi korban. Bahkan ketika sudah ada kejadian nyata yang “memakan korban”.

Dua hari yang lalu, tepatnya 21 Agustus 2016 pukul 01.25, Fevi seorang mahasiswa baru Farmasi UI kembali ke pangkuan-Nya setelah sebelumnya mengalami koma selama satu minggu. Penyebabnya, Fevi ditabrak oleh pengendara motor pada 14 Agustus 2016 sekitar pukul 13.30 di jalan Margonda. Setelahnya beragam reaksi bermunculan, mulai dari mereka yang menyerukan perbaikan fasilitas, mengingatkan pengguna jalan (yang jalan kaki) untuk lebih berhati-hati, mengutuk pengguna jalan (yang gak jalan kaki) yang seringkali gak mau ngasih jalan sama penyebrang, dan beberapa yang menyalahkan korban (dan takdir).

Bagi jalan Margonda di Depok, kecelakaan yang menimpa penyebrang jalan bukan hanya terjadi kali pada Fevi saja. Setidaknya ada beberapa kejadian yang juga menimpa orang-orang disekitar saya. Dan sungguh biaya rumah sakit (terutama rumah sakit yang ada di Jalan Margonda) tidaklah murah. Sama sekali tidak. Setiap upaya penggalangan dana kita butuh puluhan juta-sekali lagi-PULUHAN JUTA.

Tapi bukan itu fokus yang ingin saya bahas hari ini. Hmm, sampai mana tadi?

Aaah… Sungguh malang nasib kasta kelas dua, mau kemana-mana akses susah. Mau mengakses jalan, harus bertaruh nyawa. Mau rekreasi atau olahraga di jalan biar sehat, nyatanya malah kena ISPA. Mau mengakses penghidupan dari jalan, harus siap-siap ditertibkan. Mau mengakses fasilitas kesehatan karena kecelakaan di jalan, jangan harap kalau kamu miskin!

Akhirnya saya setuju dengan analisis mas Radjimo dan akhirnya saya tidak habis pikir pada sebuah kecelakaan (yang melibatkan pengguna jalan yang jalan kaki) kok masih bisa menyalahkan korban (yang ditabrak). Sejak kapan nyawa manusia menjadi tidak lebih berharga daripada beberapa detik yang harus dikorbankan untuk berhentinya kendaraan untuk memberi lewat. Kalau diadu-pun antara manusia dengan mesin-berangka-dan-beroda itu maka saya rasa pasti manusianya yang kalah. Oh! semua jelas sekarang, karena yang bawa kendaraan lebih punya power (kuasa) dan pengguna jalan pasti kalah, maka pengguna-jalanlah yang harus mengalah.

myhome

Jadi untuk pejalan kaki (terutama penyebrang jalan)… Pemenuhan hak atas kota? Akses terhadap jalan? Sepertinya kamu harus menunggu, tunggu sampai kamu menjadi kasta nomor satu, menjadi mereka yang ditengah jalan.

Untuk sekarang gunakanlah jurus “tangan tuhan” ketika menyebrang, jangan lupa lihat kiri kanan saat menyebrang karena keberhasilan jurus “tangan tuhan” sangat dipengaruhi oleh timing. Lepas timing nyawa melayang. Sebisa mungkin lakukan jurus ini bersama-sama untuk menambah kekuatannya. Semoga beruntung.

Referensi: Persentasi Radjimo Sastro Wijono (2016) pada Simposium Internasional Jurnal Antropologi Indonesia ke 6, Depok, Universitas Indonesia.

 

Iklan