/’kɒfɪ/ (n)

Standar

Blog -  Kopi

People live with the meaning attached to the things in life

Without them there will be void

Your heart wont be satisfied

These things are unique in their existence

Such as too-salty cuisine served in everyday dinner by your mother, super-crunchy-overheard jokes from your father, possessed toy with-never-ending fight from your siblings

…or simple things such a cup of coffee which warmth reminds that you were still alive in this world.

Traveling

Standar

Mereka bilang kalau engkau memiliki “urge” untuk menulis walaupun sedikit maka tulislah! Jangan tunggu Ia menguap, karena itu sama dengan membunuh. Lalu inilah entri berturut dari #sisilain yang biasanya jarang diupdate.

Don’t take this entry to seriously. I dare say to thee, who have not strong enough faith to leave immediately (Just Kidding). But there is some truth there, the current me just not capable enough to make deep reflection about life, furthermore in religious way like ridhaintifadha.tumblr.com. Ya intinya itu lah (a la anak muda jaman sekarang males jelasin). Okay, let’s got into the point. Recently I came into enlightenment about the big responsibility of “Traveling” in Islam.

In some random conversation, I and Kaysha discuss about Traveling. She wish to gone traveling around the world. Half joking, I oppose to her idea to traveling. She can’t hide her surprise. She looks puzzled and can’t hold back to ask, Why? Then I said, for us Muslim within “Traveling” come big responsibility.

“What kind of responsibility? I don’t get it.” She asked me further.

I explained to her the Five Pillars of Islam (not sure if this corrects term, but anyway), which states the duty of Muslim. I reminded her about the first four lines, the declaration of faith, sholat five times a day, charity (or almsgiving?), and fasting during Ramadan. The first two pillars were our matter with god. And the next two state our responsibility with ourselves and the community around.

“Remember the last pillar?” I asked her.

“A pilgrimage to Mecca (Hajj)” she replied fast “So what?”

“That is traveling. So basically what I was trying to say is we must settle up our responsibility first. After the matter with god, with ourselves and the community around us settled, then we may go traveling.”

“Damn, that was heavy” She sighed.

Cryptographer

Standar

Recently Chinese has piqued me, I found Chinese very Interesting. Although I just learned Chinese less than one month and still a lot of Hanzi (Chinese Word) I don’t understand, it still a lot of-heckuva-fun. The learning processes just like cracking a code. Because Chinese uses symbol (that huruf kotak-kotak things – ibarat kalau jadi kalimat isinya kanji semua). Pick some random word, combine them, and voila! You’ve got something new. For example (马) which means horse and (桶) that stands for bucket. What gonna happen if those two combined? You got (马桶) Toilet word. Horse+Bucket = Toilet. Amazing, right?

So I desperately am trying to figure how to learn this new realm language. For me who use this “Alphabet” for life, learning Chinese is really like cracking codes. Because first you need to study the symbol (hanzi – bahasa kerennya vocab), how to pronounce it (pinyin) then how to put those symbol altogether. With a bit of… well a lot of imposing in the process, I try to make story for each symbol. Let me give you some example, there was a yao word () and xiang (). They can be used for sentences like this,

去北京 = I’m going to Beijing.

想要什么 ?= What do you want?

你今天做什么?= What would you like to do today?

Like seriously? With slight different usage comes the huge different meaning.

So here comes the story, In the first sentence the “I” was firm (want) to go to Beijing. The second question the speaker was asking for some resolution. Then for the last, the third sentence indicates the desire to do something or like some supposition -if you do something what will you do? – but hasn’t happened. So the (yao) word stands for “keinginan yang pasti” (demand, desire, urge, something more likely to happen) and the (xiang) word stands for “keinginan yang masih andai-andai” (would like things). If the two words combined, just like in second sentence, it causes confusion. Then the 什么 demands certainty.

In order to make the word easier to remember we add some backstory, see the little (女) in (要) word? The (女) word means woman.

We can see within the “demand” word there is “woman”. Woman-demand-certainty formula, it just like how real word going right? *Seksis abis, terus ditimpuk para feminis”.

Like I said before, it’s like deciphering a code right?

Sekian dan Terima Kasih.

Selayang Pandang Universitas Indonesia Part 1 – Rumpun Ilmu Kesehatan

Standar

Untuk entri kali ini kita akan membahas mengenai fakultas-fakultas (tepatnya 14 fakultas dan satu program vokasi) yang ada di Universitas Indonesia. Jadi pada awalnya, saya diminta bantuan oleh teman untuk mengisi sebuah sesi di Expo sederhana mengenai UI di SMAN 81 Jakarta (baca: Grafity). Panitia meminta porsi yang besar untuk penyampaian materi mengenai fakultas-fakultas yang ada di UI. Walaupun sudah 4 tahun lebih saya menjadi mahasiswa di UI, tidak serta merta saya bisa menjadi ensiklopedia UI berjalan.

“Tapi boleh juga requestnya, oke challenge accepted!”

Daripada sotoy terus ujungnya cuma sepik dan tipu-tipu, mulailah saya mengontak teman-teman seantero UI (yang rata-rata mantan ketua BEM) untuk dihujani pertanyaan-pertanyaan remeh. Ternyata jawaban-jawabannya banyak diluar dugaan, seru dan sayang kalau cuma di simpan sendiri. Maka, jadilah jawaban-jawaban tersebut dikompilasi ke dalam tulisan ini.

Jangan harapkan terdapat informasi-informasi yang mendetil mengenai perkuliahan,  jurusan, atau sejarah dari fakultas/program tertentu (just ask our mother google or ask your very-kind-senior). Ini juga bukan panduan memilih jurusan. Selayang pandang setiap fakultas disusun berdasarkan empat pertanyaan utama, (1) Apa kebanggaan menjadi anak fakultas/program “X”; (2) Apa yang dipelajari di fakultasnya, yang membuat mereka “berbeda” dari anak UI yang lain; (3) Kalau masih ragu buat kuliah di fakultas X, gimana ngeyakininnya; dan (4) Serunya belajar di fakultas/program X. Dari keempat pertanyaan tersebut diharapkan semangat dari masing-masing fakutlas/program tersebut bisa sampai ke para pembaca sekalian 🙂 terutama adek-adek lucu yang lagi bingung mau masuk jurusan apa.

Peringatan! Pilihlah fakultas/program studi sesuai passion, percuma keren-kerenan di awal tapi entar kuliahnya gak enjoy. Mending kalau cuma gak enjoy, kalau bikin stress dan malah bunuh orang atau bunuh diri? Akhirnya jadi percuma juga kan. Coba tanyakan lagi ke hati kecil kalian, apa yang kalian mau lakukan di masa depan. Oh iya dan satu lagi, info yang ada di tulisan ini sifatnya subjektif, kalau ada klaim-klaim yang ternyata berlebihan jauh di atas dosis normalnya, maka itu diluar tanggung jawab penulis *kabur*. Panjang-pendeknya materi juga ditentukan dari jawaban para kontributor (dan tambahan sedikit dramatisasi dari saya tentunya), jadi kalau ada yang panjang sendiri bukan berarti dikasih perlakuan khusus loh ya.

Dan ada satu hal penting lainnya yang ingin saya sampaikan (credit buat @taniaannisah untuk hal ini),

“dalam semesta ilmu pengetahuan tidak ada ilmu yang jauh lebih tinggi atau jauh lebih mulia dibandingkan yang lainnya.”

Keren-kerenan anak IPA-anak IPS-atau bahasa di SMA sejatinya tidak berlaku di sini. Misalnya kamu ngerasa keren kalau kamu jadi anak kedokteran dan bisa nyelamatin orang. Kalau kamu termasuk dari satu lulusan dokter dari segambreng dokter yang ada, terus kenapa? Bukankah akan lebih keren lagi kalau tidak perlu ada yang ke dokter? Ini yang diperjuangkan oleh teman teman FKM dan Kesejahteraan Sosial di FISIP. (No offence buat anak FK, ini cuma contoh). Begitupun kalau nanti kamu menjadi bagian dari Rumpun Sosial Humaniora maupun Rumpun Sains dan Teknologi.

Dalam semesta ilmu pengetahuan (Universitas) kita sama-sama memperjuangkan sesuatu kebaikan dan sudah sejatinya untuk saling bantu dan berkolaborasi untuk itu.

Udah gak jaman sombong-sombongan karena lulusan dari fakultas mana atau ada di rumpun keilmuan yang mana. Indonesia sedang tidak baik-baik saja.Kita tidak punya kemewahan untuk memberi makan ego pribadi, menumbuhkan kesombongan dan saling memisahkan diri dengan sekat-sekat rumpun keilmuan atau fakultas.

***

Naaaah… Berbeda dengan entri-entri sebelumnya di #sisilain, karena tulisan ini bukan untuk “kepuasan” diri sendiri. Maka kita akan coba untuk menjadikan semuanya mudah dan menyenangkan :). Universitas Indonesia terdiri dari tiga rumpun keilmuan, rumpun ilmu kesehatan (RIK), rumpun ilmu sosial humaniora (Soshum) dan rumpun sains dan teknologi (Saintek). Mari kita bahas satu per satu…

Rumpun Ilmu Kesehatan

RIK terdiri dari empat fakultas yaitu, fakultas kedokteran (FK), fakultas kedokteran gigi (FKG), fakultas kesehatan masyarakat (FKM) dan fakultas ilmu keperawatan (FIK).

  1. Kedokteran

FK UI merupakan fakultas kedokteran tertua dan salah satu yang terbaik  di Indonesia. Kalau pada belajar sejarah jaman perjuangan, ada gerakan yang dimulai oleh mahasiswa-mahasiswa STOVIA. Nah! Itu cikal bakalnya FK UI, makanya banyak tokoh kemerdekaan dari sana. Apa yang dipelajari di FK? Jelas segala hal tentang tubuh manusia, teori-teori kedokteran (yang bukunya tebal-tebal), dan observasi pasien adalah hal yang akan banyak kalian temukan sebagai mahasiswa FK. Mahasiswa FK bakal “magang” di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) yang notabene adalah RS rujukan nasional, jadi bisa dibilang ada nilai tambah untuk work experience dibandingkan yang lain (cukup banyak kasus unik dan langka dihadapi, bahkan ketika mereka belum jadi dokter).

Anak-anak FK UI belajar mengenai manusia dari sisi bio-psiko-sosialnya. Secara spesifik yang menjadikan anak-anak FK berbeda dengan anak UI yang lainnya adalah mereka belajar secara klinis. Bagaimana caranya bisa mendiagnosis secara tepat dan akurat. Bagaimana untuk mampu mengambil tindakan secara evidence-based. Dari sini kita bisa melihat bagaimana anak FK UI dididik untuk memiliki skill observasi yang mumpuni. Di FK mahasiswanya diajarkan untuk belajar sepanjang hayat, karena ilmu terus menerus berkembang, dan kita (baca: anak FK UI) harus bisa berperan dalam pengembangannya.

  1. Kedokteran Gigi

Lulusan FKG seperti kakaknya FK, telah memiliki trek profesi (pekerjaan) yang jelas, yaitu dokter gigi (ya iya lah masa jadi dokter hewan). Kebanggaan menjadi dokter gigi, bekerja di RS adalah membantu orang lain. Terdapat kebahagiaan dan kepuasan tersendiri menjadi seorang dokter, merawat pasien, lalu pasiennya sembuh. FKG juga mempelajari hal-hal yang dipelajari di FK, hanya saja dalam banyak hal tidak sedalam FK. Strong point FKG ketika dibandingkan dengan fakultas-fakultas lain di UI, termasuk FK adalah kuliahnya gak cuma teori doang, tapi langsung praktek. Bisa dibilang 80% kuliah di FKG adalah praktek. Tindakan-tindakan seperti resuitasi, jahit, resep obat dipelajari di FKG. Cuma jangan kira jadi dokter gigi lebih gampang daripada jadi dokter biasa. Siap-siap ketemu banyak dosen yang bakal ngedidik kalian dengan keras (baca: galak). Biarpun “cuma” urusan mulut dan gigi, salah-salah bisa mengancam nyawa. Untuk proyeksinya di masa depan, kabarnya lulusan FKG lebih mudah jadi PNS, karena memang se-dibutuhin itu. Lapangan kerjanya juga lumayan luas, karena profesi dokter gigi masih banyak dibutuhkan di daerah-daerah.

  1. Kesehatan Masyarakat

Sekarang di FKM ada 4 program studi, kesehatan masyarakat, kesehatan lingkungan, gizi dan K3 (iya K3 yang lagi ngetren sekarang itu loh, adanya di FKM). FKM mempelajari apa yang dipelajari oleh anak-anak kesehatan lain pelajari dan juga apa yang dipelajari oleh anak-anak sosial humaniora. Sederhananya FKM belajar tentang IPA dan IPS, IPA-nya ya ilmu kesehatan, gizi, dan sebagainya. Sementara dari IPSnya FKM belajar tentang ilmu komunikasi, manajemen, sosiologi, kepemimpinan, antropologi, dan lain-lain. Sehingga anak FKM dituntut untuk berpikir secara holistik terutama berkaitan dengan kesehatan. Secara karir FKM bisa kemana aja, selama masih ada masyarakat maka FKM akan selalu dibutuhkan.

FKM UI adalah yang terbaik di Indonesia, kalau yang lain belajar pakai buku, nah di FKM UI mereka langsung belajar dari yang buat bukunya #Asyeek #Sombong. Kebanggaan anak FKM UI khususnya adalah lingkungan FKM suportif dan selalu menghargai usaha sekecil apapun yang kalian lakukan, kultur kekeluargaannya kental (tidak ada senior-junior di FKM, adanya kakak-adek-an), karena dekat akhirnya pada saling bantu satu-sama-lainnya. Nilai-nilai kepedulian dan kebermanfaatan, mendarah daging dalam diri anak-anak FKM, karena ditanamkan semenjak mahasiswa baru. Lalu apa lagi keseruran kuliah di FKM UI? Kuliahnya santai, dosen-dosennya keren, dan banyak dosen tamu dan praktisi jempolan yang mengisi di berbagai mata kuliahnya. Anak-anak FKM dibiasakan untuk belajar dalam tim tetapi tetap punya kapasitas secara individu.

Kalau sampe titik ini masih ada yang nanya, “Bedanya FKM ama FK apa?”. Ya sederhananya FKM belajar ilmu kesehatan dalam tataran manajerial. Secara keilmuan, ilmu di FKM bersifat preventif (mencegah penyakit) dan promotif (bagaimana mempromosikan kesehatan pada masyarakat luas).

  1. Ilmu Keperawatan

(Coming soon, lagi nunggu jawaban – underconstruction)

Sampai saat ini yang bisa saya dijelaskan mengenai FIK adalah, disini kalian akan dididik menjadi tenaga keperawatan yang handal. Janganlah, kisanak menandang sebelah mata profesi perawat ini apalagi dipandang inferior dibanding dokter. Coba kisanak tengok ke rumah sakit-rumah sakit, siapa yang benar-benar in-charge merawat dan mendampingi personal si pasien. Jawabnya bukanlah dokter bukan juga dokter gigi, tetapi perawat. Terpujilah engkau para perawat Indonesia :’)

credit untuk Rendra, Arbi, Om Jay, dan Flo untuk materi post ini 🙂

Selengkapnya mengenai fakultas di UI baca juga, Rumpun Sosial dan Humaniora dan Rumpun Sains dan Teknologi + Vokasi

Selayang Pandang Universitas Indonesia Part 3 – Rumpun Sains dan Teknologi + Program Vokasi

Standar

Peringatan! Pilihlah fakultas/program studi sesuai passion, percuma keren-kerenan di awal tapi entar kuliahnya gak enjoy. Mending kalau cuma gak enjoy, kalau bikin stress dan malah bunuh orang atau bunuh diri? Akhirnya jadi percuma juga kan. Coba tanyakan lagi ke hati kecil kalian, apa yang kalian mau lakukan di masa depan. Oh iya dan satu lagi, info yang ada di tulisan ini sifatnya subjektif, kalau ada klaim-klaim yang ternyata berlebihan jauh di atas dosis normalnya, maka itu diluar tanggung jawab penulis *kabur*. Panjang-pendeknya materi juga ditentukan dari jawaban para kontributor (dan tambahan sedikit dramatisasi dari saya tentunya), jadi kalau ada yang panjang sendiri bukan berarti dikasih perlakuan khusus loh ya.

Dan ada satu hal penting lainnya yang ingin saya sampaikan (credit buat @taniaannisah untuk hal ini),

“dalam semesta ilmu pengetahuan tidak ada ilmu yang jauh lebih tinggi atau jauh lebih mulia dibandingkan yang lainnya.”

Keren-kerenan anak IPA-anak IPS-atau bahasa di SMA sejatinya tidak berlaku di sini. Misalnya kamu ngerasa keren kalau kamu jadi anak kedokteran dan bisa nyelamatin orang. Kalau kamu termasuk dari satu lulusan dokter dari segambreng dokter yang ada, terus kenapa? Bukankah akan lebih keren lagi kalau tidak perlu ada yang ke dokter? Ini yang diperjuangkan oleh teman teman FKM dan Kesejahteraan Sosial di FISIP. (No offence buat anak FK, ini cuma contoh). Begitupun kalau nanti kamu menjadi bagian dari Rumpun Sosial Humaniora maupun Rumpun Sains dan Teknologi.

Dalam semesta ilmu pengetahuan (Universitas) kita sama-sama memperjuangkan sesuatu kebaikan dan sudah sejatinya untuk saling bantu dan berkolaborasi untuk itu.

Udah gak jaman sombong-sombongan karena lulusan dari fakultas mana atau ada di rumpun keilmuan yang mana. Indonesia sedang tidak baik-baik saja.Kita tidak punya kemewahan untuk memberi makan ego pribadi, menumbuhkan kesombongan dan saling memisahkan diri dengan sekat-sekat rumpun keilmuan atau fakultas.

***

Rumpun Ilmu Sains dan Teknologi

Rumpun Ilmu Sains dan Teknologi terdiri dari 4 fakultas yaitu, Faklultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Teknik (FT), Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) dan Fakultas Farmasi. Dan untuk menjadikan entri tulisan dalam #sisilain tetap compact maka, penjelasan mengenai program Vokasi akan dimasukan dalam postingan ini.

  1. Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Menjadi mahasiswa FMIPA UI berarti kalian bertemu orang-orang terbaik se-Indonesia, karena FMIPA UI isinya banyak anak-anak yang mengikuti olimpiade sains di SMAnya (Kalau gak ke ITB anak-anak Olimpiade IPA itu pastilah ke FMIPA UI – Ini klaim sih). Dari sisi lingkungan, anak-anak MIPA cenderung homogen, cenderung satu pemikiran dan gak plural, tapi dengan demikian anak-anak MIPA sangat terjaga dari pengaruh-pengaruh buruk (ayo pengaruh apaan coba~). Jika jiwa keilmuan kamu terpanggil dan ingin mempelajari kemurnian saripati Ilmu Pengetahuan Alam maka ikutilah panggilan jiwa tersebut, biarkan hati dan passion kamu mengarahkan apakah Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, atau Geografi tempatnya.

Jangan takut untuk takut tidak dapat pekerjaan setelah lulus dari FMIPA, karena yang dipelajari khusus jelas saja lapangan kerjanya juga khusus. Atau takut susah lulusnya ketika masuk MIPA? Semua tergantung kepada individu masing-masing. Tetaplah bersungguh-sungguh dan kembangkan potensi diri. Emas akan tetap menjadi emas, dimanapun ia berada. Mereka yang menolak emas adalah mereka yang tidak mengetahui nilai dari emas itu sendiri. Dengan menjadi anak MIPA kamu akan merasakan the brotherhood of mereka yang memilih jalan keilmuan murni. Kamu tidak akan merasa sendiri, bahkan ketika kamu merasakan kesulitan dalam belajar. Lingkungan belajar FMIPA sangat positif, selalu ada orang yang siap membantu kamu di saat kesulitan.

  1. Teknik

Kalau kamu punya passion untuk mencipta maka masuklah ke FT UI. Because engineer make things. Teknik merupakan salah satu fakultas dengan jurusan terbanyak di UI mereka cuma kalah sama FIB. Lihat saja jurusan-jurusannya, Teknik Sipil, Teknik Mesin, Teknik Elektro, Teknik Metalurgi dan Material, Arsitektur, Teknik Kimia, Teknik Industri, Teknik Perkapalan, Teknik Lingkungan, Teknik Komputer, Arsitektur Interior, dan Teknologi Bioproses. Bingung jurusan-jurusan diatas belajar apa aja? Silahkan dicari sendiri 😉 atau tanya temennya yang dateng ke acara Bedah Kampus.

FT merupakan fakultas yang juga punya kultur untuk terus berprestasi, banyak mahasiswa yang berprestasi di bidangnya. Kalau ga percaya coba lihat anak FT yang juara di berbagai kompetisi nasional/internasional. Dari sisi akademik FT memiliki banyak dosen yang memiliki track record bagus, baik di tingkat nasional maupun internasional, sering juga dosen FT jadi dosen berprestasi tingkat nasional. Sebagaimana fakultas dengan jumlah mahasiswa yang banyak, dunia kemahasiswaan FT  memiliki iklim kemahasiswaan yang bagus dan mendukung kamu untuk kontribusi sesuai dengan passion yang kamu miliki.

Kalau mau ditanyakan apa yang membuat anak FT berbeda dari anak UI lainnya, yang biasanya dijawab adalah kultur ke-IKM-an teknik yang sangat kental dan mengakar. Kalau mau dijelasin secara keilmuan… ini kayak FISIP sih, susah buat jelasinnya karena terlalu banyak dan beragam (ntar jadi panjang sendiri). Intinya hampir semua jurusan di FT ilmunya khusus dan mendalam, hanya beberapa jurusan yang belajarnya meluas. Karena yang dipelajari masing-masing berbeda walaupun basic-nya sama-sama teknik. Balik lagi ke premis di awal, engineer make things. Masih ragu memilih FT? Tanya lagi ke diri kamu, passion kamu apa? Kalau passion kamu mendesain sesuatu dan/atau berkaitan dengan fisika atau matematika, udah hajar aja bleh, pilih FT UI. Kalau kamu merasa kapasitasnya belum memadai maka belajar dan belajarlah terus. FT juga punya lingkungan yang memadai untuk belajar dan Hotspot yang terkenal cepat – yang bisa ngalahin cuma Hotspot Fasilkom –jadi kamu bisa belajar dimana saja (dan download apa saja, kecuali hal-hal “terlarang” karena akun kamu akan diblokir oleh UI).

  1. Ilmu Komputer

Fasilkom merupakan fakultas dengan perkembangan ilmu yang sangat cepat. Apalagi dengan perkembangan teknologi yang semakin cepat saat ini, menjadikan Fasilkom bisa ganti kurikulum 2-3 tahun sekali (bandingkan dengan fakultas lain yang ganti kurikulum 5-10 tahun sekali). Di era IT seperti ini, mereka yang menguasai IT bisa melakukan apapun. Kultur keilmuan yang ada di Fasilkom membuat anak-anaknya terbiasa berpikir logis dan sistematis. Namun, hal tersebut tidak menjadikan anak-anak Fasilkom menjadi anak-anak yang kaku, justru fasilkom kekeluargaannya erat banget. Dari segi keilmuan Fasilkom beririsan dengan FT dan FMIPA di sisi matematika dan programming, dan FEB dari sisi manajemen dan bisnisnya.

Berikutnya, untuk prospek kerja Fasilkom. Hmm… sekarang hampir semua perusahaan butuh tenaga IT, entah untuk database, web developing, bikin aplikasi, dan lain-lainnya. Di sisi lain orang yang bener-bener paham IT belum sebanyak itu. Freshgraduate fasilkom bisa ngantongin 8 juta perbulannya, lumayan banget kan. Prospek kedepannya untuk kontribusi dan membangun masyrakatat juga gede banget, karena persebaran IT dan pengetahuan terhadapnya belum merata di Indonesia. Tetapi, hati-hati kalau milih Fasilkom cuma buat gaya-gayaan, karena terlihat mudah pas SNMPTN undangan, apalagi kalau passion sebenarnya bukan di bidang IT. 5 Semester pertama di Fasilkom bakal berat banget, kasarnya itu “sengaja” dibikin seperti itu supaya mahasiswa yang ga minat-minat amat di fasilkom segera angkat kaki >:)) *evil laugh*.

Tapi kalau minat kamu memang di bidang IT, kamu harus hajar terus. Jangan cuma karena passing grade, kuliahnya berat, atau cuma ngerti dikit tentang komputer, terus malah jadi mundur. Kemampuan akan mengikuti passion dan persistence kamu.

  1. Ilmu Farmasi

Kamu punya passion untuk menolong orang? Bikin orang sembuh? Tapi gak mau jadi dokter atau perawat? Mungkin farmasi adalah jawaban yang tepat buat kamu. Di sini kamu bisa eksperimen campur-campur bahan kimia buat jadi obat. Biarpun kerjaannya banyak ngeracik-racik obat, ini bukan fakultas perdukunan terselubung. Karena yang dilakukan anak-anak Farmasi 100% ilmiah dan dilakukan di Laboratorium. Berbanggalah kamu sebagai anak Farmasi yang memiliki laboratorium. Universitas yang punya laboratorium di Indonesia sangatlah terbatas. Yang punya dan terakreditasi ya cuma Farmasi UI.

Belajar di Farmasi berarti belajar gabungan dua hal, ilmu kedokteran dan teknik kimia/bioproses. Ngeracik obat… Mungkin terdengar simple dan mudah. Tapi jangan salah! Perbedaan satu milligram saja (Ya, satu milligram saja saudara-saudara!) dapat menjadi perbedaan besar antara obat dengan racun. Nyawa orang bisa melayang, oleh karena itu anak-anak Farmasi UI sangat dibiasakan untuk detail, teliti dan disiplin dalam praktiknya. Apalagi kalau sampe ngerusak alat-alat di lab, gantinya bisa jutaan itu bro. Mau makan indomie berapa tahun itu buat ngehemat dan ganti alatnya. *ngeri*

Salah satu keseruan dalam perkuliahan di Farmasi adalah kamu akan menemukan keluarga baru. Berkesempatan merasakan perjuangannya nulis 1000 kalimat (atau rumus persamaan) yang sama dalam satu kertas folio. Membatik… ya semacam itulah (anak Farmasi UI will know this). Atau merasakan nikmatnya membawa satu jerigen air dari basement ke lantai empat, naik tangga. Sungguh benar-benar sebuah kenangan masa muda yang tidak akan terlupakan. Di Farmasi kamu akan merasakan masa muda dengan penuh rasa kebersamaan.

++Vokasi (D3) – Kalau di luar negeri ini ibaratnya UI College

Dari segi akademik anak-anak Vokasi adalah orang-orang yang paling siap kerja dibandingkan jurusan lainnya di UI. Kenapa bisa begitu? Karena, di Vokasi yang namanya PRAKTIK sangat diutamakan. Dibandingkan teori-teori dan konsep-konsep kuliah, praktik dan teknik (skill terapan) lebih diutamakan. Selain itu keberagaman program ke-vokasian yang ada, akan membuat kamu memiliki banyak teman dari jurusan-jurusan yang secara akademik sebenarnya jauh. Misalnya, kamu anak Vokasi Akuntansi tapi bisa punya temen di bidang komunikasi (penyiaran), atau di bidang pariwisata, dan banyak lagi. Dari situ kamu bisa ngintip-ngintip dunia kerja orang lain tuh, kayak gimana sih. Dengan kuliah di Vokasi kamu juga akan banyak menemukan seringnya anak Vokasi menerima pelatihan atau kuliah umum dari Industri langsung. Wow.. So kewl isn’t it? Kesiapan bersaing di dunia kerja inilah yang membuat anak Vokasi berbeda dengan anak UI lainnya.

Kalau masih ragu buat milih Vokasi karena kuliah 3 tahun terus “cuma” dapet Diploma, janganlah kisanak menjadi khawatir. Kalau keraguan kamu hanya itu. Gelar sarjana masih bisa diambil setelah lulus Vokasi dengan mengambil ekstensi. Anak Vokasi juga dikenal seru dan solid. Karena sejak awal kebanggaan terhadap Vokasi sangat ditanamkan kepada mahasiswa-mahasiswa baru Vokasi. Vokasi sekarang juga udah punya kantin,maksudnya gedungnya semua baru, liftnya juga bagus. Jadi, udah ga ada alasan buat kamu untuk menyisakan keraguan bila ingin masuk Vokasi.

*anyway, remeh banget yak alasan masuk kampus gara-gara kantin*

Nih, buat yang penasaran di program vokasi bisa belajar apa aja. Jreeng… Jreng…

  • Fisioterapi
  • Okupasi Terapi
  • Perumahsakitan
  • Akuntansi Keuangan
  • Akuntansi Teknologi Sistem Informasi
  • Akuntansi Sektor Publik
  • Manajemen Informasi & Dokumen
  • Administrasi Perpajakan
  • Administrasi Asuransi & Aktuaria
  • Administrasi Keuangan dan Perbankan
  • Administrasi Perkantoran & Sekretaris
  • Penyiaran
  • Hubungan Masyarakat
  • Periklanan
  • Pariwisata

credit untuk Taufik, Nadhif, Judin, Abdel dan Rifky untuk materi post ini 🙂

Selengkapnya mengenai fakultas di UI baca juga, Rumpun Sosial dan Humaniora dan Rumpun Ilmu Kesehatan

Selayang Pandang Universitas Indonesia Part 2 – Rumpun Sosial Humaniora

Standar

Peringatan! Pilihlah fakultas/program studi sesuai passion, percuma keren-kerenan di awal tapi entar kuliahnya gak enjoy. Mending kalau cuma gak enjoy, kalau bikin stress dan malah bunuh orang atau bunuh diri? Akhirnya jadi percuma juga kan. Coba tanyakan lagi ke hati kecil kalian, apa yang kalian mau lakukan di masa depan. Oh iya dan satu lagi, info yang ada di tulisan ini sifatnya subjektif, kalau ada klaim-klaim yang ternyata berlebihan jauh di atas dosis normalnya, maka itu diluar tanggung jawab penulis *kabur*. Panjang-pendeknya materi juga ditentukan dari jawaban para kontributor (dan tambahan sedikit dramatisasi dari saya tentunya), jadi kalau ada yang panjang sendiri bukan berarti dikasih perlakuan khusus loh ya.

Dan ada satu hal penting lainnya yang ingin saya sampaikan (credit buat @taniaannisah untuk hal ini),

“dalam semesta ilmu pengetahuan tidak ada ilmu yang jauh lebih tinggi atau jauh lebih mulia dibandingkan yang lainnya.”

Keren-kerenan anak IPA-anak IPS-atau bahasa di SMA sejatinya tidak berlaku di sini. Misalnya kamu ngerasa keren kalau kamu jadi anak kedokteran dan bisa nyelamatin orang. Kalau kamu termasuk dari satu lulusan dokter dari segambreng dokter yang ada, terus kenapa? Bukankah akan lebih keren lagi kalau tidak perlu ada yang ke dokter? Ini yang diperjuangkan oleh teman teman FKM dan Kesejahteraan Sosial di FISIP. (No offence buat anak FK, ini cuma contoh). Begitupun kalau nanti kamu menjadi bagian dari Rumpun Sosial Humaniora maupun Rumpun Sains dan Teknologi.

Dalam semesta ilmu pengetahuan (Universitas) kita sama-sama memperjuangkan sesuatu kebaikan dan sudah sejatinya untuk saling bantu dan berkolaborasi untuk itu.

Udah gak jaman sombong-sombongan karena lulusan dari fakultas mana atau ada di rumpun keilmuan yang mana. Indonesia sedang tidak baik-baik saja.Kita tidak punya kemewahan untuk memberi makan ego pribadi, menumbuhkan kesombongan dan saling memisahkan diri dengan sekat-sekat rumpun keilmuan atau fakultas.

***

Rumpun Ilmu Sosial dan Humaniora

Rumpun Sosial Humaniora (Soshum) terdiri dari enam fakultas, Fakultas Hukum (FH), Fakultas Ekonomi (FE), Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Fakultas Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas Ilmu Administrasi (FIA).

  1. Hukum

Ibarat kata kalau ada penjelasan undang-undang tentang apa yang dipelajari di FH jawabannya, cukup jelas. Apalagi coba yang mau dijelasin. Anak FH ya belajarnya hukum. Nah, tapi sebenernya banyak banget yang bisa dipelajari di FH, tergantung nanti peminatannya apa. Yang suka ketatanegaraan bisa belajar HukumTata Negara dan Administrasi Negara, yang suka tentang penindakan kejahatan bisa milih peminatan hukum pidana. Suka ekonomi, maka pilihlah hukum bisnis. Ibaratnya dengan memilih FH kalian bisa mengerti isu-isu yang dipelajari oleh anak jurusan lain walaupun lingkupnya adalah teknis hukumnya. Kalau masih ragu untuk masuk rumpun sosial humaniora, terutama FH coba ingatlah idiom ini.

“Salah benar di dunia ini ditentukan oleh dua hal, (1) Pandangan Masyarakat; (2) Pengadilan.”

Dengan masuk FH kita bisa menyelamatkan diri sendiri dan orang lain, karena dalam tataran ideal di pengadilan hukum semuanya dianggap sama. Kalau mau selamat di dunia maka galilah ilmu hukum sedalam-dalamnya, dan FH UI adalah tempat terbaik untuk itu.

Serunya kuliah di FH UI lingkungannya bikin anak-anaknya termotivasi. Mulai dari dosen-dosennya yang keren-keren, banyak tokoh nasional, terus tiap ngajar ada mobil-mobil kece macam masserati, rubicon atau jaguar di parkiran (tapi itu semua dunia nak, ingatlah akhirat menunggumu). Anak-anak FH dikenal gaul (kalau gak percaya cek feed instagramnya~) tapi intelek terhadap isu-isu nasional, dan kabarnya anak FH juga ambisius, terutama yang berkaitan sama lomba-lomba/kompetisi akademis. Jadi kalau belum pernah ikut lomba peradilan semu nasional/internasional, debat atau konfrensi kayaknya belum jadi anak FH sejati (kultur kayak gini juga ada di jurusan HI). Juga anak FH UI terkenal tahan banting, secara terbiasa baca berkas yang tingginya bisa sampe 1 meter. Secara kalau ikut lomba, berkas lomba semua dibikin semirip mungkin dengan aslinya, jangan sampe entar disalahin sama klien gara-gara ga teliti baca berkas. Diragukan sih, kalau anak fakultas lain punya pengalaman seperti ini.

  1. Ekonomi

Lingkungan akademisnya mendukung karir, persaingan dan produktifitas. Betapa tidak, kamu akan menemukan dosen-dosen unggulan, teman-teman hebat, dan alumni-alumni dengan jejaring yang luas. Kalau kamu ngejalanin proses menjadi mahasiswa dengan baik dan benar di FE seharusnya sih kamu gak khawatir dengan masa depan kamu. Intinya pengembangan diri di FE bagus. Kamu akan terpacu untuk jadi lebih baik atau bahkan yang terbaik. Karena anak FE dikenal ambisius dan kompetitif. Apa yang menjadikan anak FE berbeda dengan fakultas lain di UI adalah pola pikir efektif dan efisien mereka dalam mengambil keputusan. Makanya ada muncul anggapan atau bercandaan bahwa anak FE kapitalis (dan hedon) sementara anak FISIP sosialis (tapi tetep hedon), yang bisa dilihat dari banyaknya acara kemahasiswaan berbayar di FE dan acara kemahasiswaan yang gratis di FISIP. Tapi semua itukan cuma kabar burung dan omongan orang, kalau mau pembuktian maka masuklah ke FE UI dan buktikan sendiri apakah benar, kenapa dan bagaimananya.

(udah selesai jawabannya sampai sini, luar biasa efektif dan efisien ya anak FE kalau menjawab)

Ada beberapa jurusan yang bisa kamu pilih kalau minat kamu memang disini, Ilmu Ekonomi, Manajemen, Akuntansi, sama Ekonomi Syariah kalau ga salah juga udah ada di FE. CMIIW.

  1. Ilmu Pengetahuan Budaya

FIB merupakan fakultas dengan jurusan paling banyak se-UI (ayo kita sebut satu-satu!), Bahasa dan Kebudayaan Korea, Bahasa dan Sastra Belanda, Ilmu Arkeologi, Ilmu Filsafat, Ilmu Perpustakaan, Ilmu Sejarah, Sastra Arab, Sastra Cina, Sastra Daerah/Jawa, Sastra Indonesia, Sastra Inggris, Sastra Jepang, Sastra Jerman, Sastra Prancis, Sastra Slavia (Rusia). Apa yang dipelajari di FIB? Di FIB kamu akan belajar tentang budaya dan manusianya, apa yang diciptakan oleh manusia, dan apa yang dicapai manusia dalam peradaban. Semua itu bisa dilihat dari jurusan-jurusan yang ada di FIB. Misalnya, jurusan arkeologi dan sejarah, yang mempelajari rekam jejak manusia di masa lampau. Ada juga jurusan filsafat yang belajar tentang pola pikir manusia. Dalam jurusan yang lainnya, anak FIB juga belajar bagaimana manusia memiliki budaya masing-masing, lalu berfikir dari sudut pandang tersebut.

Keberagaman dan beragam kultur (yang dipelajari) itu membentuk mahasiswa-mahasiswa FIB, beragam jenis mahasiswa bisa ditemukan di sini. Misalkan anak perancis yang “dituntut” untuk memperhatikan cara berpakaian dan akhirnya menjadi fashionable, anak sastra cina yang semangat juangnya tinggi dan rajin belajar (gak salah ada pepatah belajarlah sampai ke negeri cina), anak korea yang gayanya kekinian ala korean stlye. Oh iya di FIB kalian akan awet muda karena FIB merupakan Fakultas Isinya Bersenang-senang. The best part adalah, dengan kuliah di FIB kalian bisa mengambil belanja mata kuliah bahasa asing lainnya, walaupun bukan dari jurusannya (biarpun harus berdarah-darah #SIAKWAR dulu).

Menariknya berdasarkan pengakuan informan yang saya wawancarai, semakin belajar mengenai kebudayaan luar justru akan semakin membuat kita cinta dengan negeri sendiri. Memang wawasan akan semakin terbuka karena berpikir global, tapi dengan demikian akhirnya anak FIB tahu apa yang bisa ditingkatkan di Negeri Sendiri :’) #SoProud. FIB punya banyak singkatan selain yang sudah disebutkan di atas, FIB juga dikenal dengan Fakultas Ilmu Bazaar. Setiap jurusan punya acara besar, dan mereka saling bersaing untuk jadi yang terbaik setiap tahunnya. Ibarat kata gengsi jurusan dipertaruhkan disitu. FIB juga dikenal dengan (baca: menyebut dirinya sendiri) Fakultas Isinya Bidadari, sampai-sampai dibangun jembatan Teksas (Teknik-Sastra) untuk menghubungkan kumbang-kumbang dengan bunga-bunga di FIB #eh.

Masalah kerjaan? Jangan khawatir akan menjadi pengangguran, karena setelah lulus kita pasti akan jadi pengangguran. *bercanda* Ini jawaban seriusnya, kuliah tidak menentukan pekerjaan di masa depan, kecuali kalau kuliahnya memang profesi. Tapi di FIB (dan rumpun sosial humaniora lainnya) potensi kalian tidak terbatas, kalian bisa jadi apa saja. Lihat saja lulusan FIB, ada Dian Sastro, Udztadzah Oki Setiana Dewi, atau mau jadi anak band kayak payung teduh? Lulusan FIB juga ada yang kerja di perusahaan asing, penulis, jurnalis, kerja di TV, di embassy, deplu, atau jadi penerjemah. It’s not about “tuntutan hidup” but it’s all about passion.

  1. Psikologi

They learn about everything, but we learn about them”, adalah kebanggaan utama anak-anak psikologi. Coba tanya ke anak-anak psikologi, pasti mayoritas pada jawab itu (generalisir parah sih ini). Psikologi UI merupakan tempat yang sangat toleran untuk jadi manusia seutuhnya yang sangat menghargai hak masing-masing individu untuk jadi apapun dan siapapun yang kalian inginkan. Lingkungan Psikologi akan menerima kalian apa adanya (belum tentu pacar kalian bakal sesuportif ini kan?). Karena Psikologi belajar tentang manusia (sejak dalam kandungan hingga wafat, dari yang tampak hingga yang tidak), maka menjadi anak psikologi juga berarti mempelajari tentang diri sendiri (silahkan kalau ada yang mau rawat jalan sambil kuliah, fakultas psikologi adalah tempat yang pas :p). Di Psikologi kalian juga akan belajar betapa kesehatan jiwa tidak kalah pentingnya dengan kesehatan fisik. Kultur akademik Psikologi termasuk kuat, terutama tradisi kuantitatifnya, kalian akan banyak mempelajarai penelitian dan penulisan ilmiah di sini.

Di UI ada beberapa bidang psikologi yang mengkategorikan pelajaran psikologi dalam 5 konteks area,

  1. Pendidikan (ada mata kuliah pendidikan karir),
  2. Industri Organisasi (ada mata kuliah psikologi entrepreneurship),
  3. Klinis (buat yang suka ilmu kesehatan dan IPA, ada mata kuliah tentang kepribadian),
  4. Perkembangan Anak (ada mata kuliah psikologi bermain disini), dan
  5. Sosial (ada mata kulish psikologi lintas budaya).

Psikologi banyak kawin atau bersinggungan dengan ilmu-ilmu lain dalam kuliahnya. Ga percaya? Oke kita kasih contoh, ada psikologi media (dengan komunikasi), psikologi forensik (dengan kriminologi), psikologi perkotaan (dengan planologi), system syaraf dan tingkah laku (dengan ilmu kedokteran), dan masih banyak lainnya. Kurang seru apalagi coba?

Ketika kamu memutuskan masuk jurusan psikologi, jangan takut karirnya cuma mentok jadi bagian HR atau SDM. banyak lulusan psikologi yang kerjanya di bidang advertising, marketing, konsultan, TNI sampai pemerintahan. Takut ga ada perusahaan yang nerima? Selama karyawannya masih manusia maka yakinlah nak, tidak ada perusahaan yang tidak butuh lulusan psikologi.

  1. Ilmu Sosial dan Imu Politik

Ada yang bilang UI adalah miniatur Indonesia. Tapi kalau mau benar-benar melihat miniatur masyarakat Indonesia maka lihatlah FISIP. Disana kita bisa menemukan banyak hal yang menarik, bahkan yang kontradiktif dengan yang dipelajari di ruang kelas. Ini jadi keseruan sendiri sih. Ketika kita berbicara mengenai FISIP maka kita juga akan berbicara mengenai keberagaman, baik secara manusianya maupun perspektif ilmunya. Keberagaman dalam tradisi akademik seperti ini tidak akan kamu jumpai di Fakultas lainnya. Keseruan lainnya menjadi anak FISIP adalah, ketika anak fakultas lain belajar di laboratorium sains, observasi di dalam ruangan, atau berkutat dengan baris kode di depan layar komputer, laboratorium anak FISIP adalah masyarakat. Kelebihan lain menjadi anak FISIP UI, UI dekat dengan pusat pemerintahan. Ketika ada isu sosial-politik nasional terkini dan kamu mau menjadi bagian dari hal tersebut, aksesnya ada didepan mata sob!

Apa yang dipelajari di FISIP? Banyak! Di salah satu mata kuliah pengantar kita diajarkan imajinasi sosiologis untuk (1) Melihat hal yang umum (pola) dari kejadian khusus; (2) Melihat hal yang khusus dari hal yang umum; dan (3) Melihat pilihan personal dalam konteks sosial. Di mata kuliah pengantar lainnya kita belajar relativitas budaya, yang intinya tidak ada budaya yang lebih baik/benar dibandingkan budaya lainnya, semua tergantung kebutuhan masyarakatnya sendiri. Anak FISIP juga, diajarkan berbagai macam pemikiran dan perspektif, dan seringkali “hal yang benar” berubah ketika kita merubah sudut pandang kita. Sehingga tidak mengherankan anak FISIP dikenal berpikiran terbuka dan kritis.

Ilmu sosial akan selalu berkembang mengikuti perkembangan masyarakat. Dan untuk itu kita harus peka terhadap perubahan dan terus meng-update pengetahuan yang kita miliki.

Terkait prospek kerja sendiri sulit untuk dirangkum dalam tulisan singkat ini, karena prospeknya begitu luas dan tergantung dari jurusan masing-masing.Tapi prinsipnya, lulusan FISIP sendiri bisa kemana aja, karena sejatinya ilmu yang dipelajari di FISIP saling berkaitan dan beririsan satu sama lainnya. Namun, sebagai gambaran umum bisa dilihat dari nama jurusannya. Jurusan yang berakhiran –logi seperti sosiologi, antropologi dan kriminologi merupakan ilmu murni. Jurusan-jurusan ini memiliki tradisi penelitian lebih kuat, yang mengarahkan lulusannya untuk jadi peneliti sosial dan mengabdikan dirinya untuk pencarian ilmu pengetahuan (yang ini lebay sih). Sementara jurusan yang diawali dengan ilmu- seperti, ilmu politik, ilmu komunikasi, ilmu hubungan internasional, dan ilmu kesejahteraan sosial, merupakan jurusan dengan ilmu terapan yang mengarahkan lulusannya untuk jadi praktisi.

Terakhir ada beberapa FAQ trivial mengenai jurusan di FISIP, (1) Antropologi mempelajari segala sesuatu tentang manusia, antropologi bukan ilmu ramalan (astrologi) atau perbintangan dan planet-planet (astronomi) bukan juga ilmu yang mempelajari tentang batu-batuan (arkeologi). (2) Apa bedanya Ilmu Politik dengan Ilmu Hubungan Internasional? Sejatinya mereka bersaudara, janganlah terlalu dipusingkan. Bedanya hanya ruang lingkup kekhususannya saja. (3) Apakah di Kriminologi diajarkan menjadi penjahat? Tidak, tapi kalau kamu mau kamu bisa karena dalam kriminologi kamu akan belajar mengenai kejahatan. #sesat (4) Kalau di kesejahteraan sosial bakal belajar apa saja? Banyak, salah satunya psikologi dan bagaimana melakukan pemberdayaan masyarakat. Seru kaan~ (5) Kak, saya ragu mau masuk komunikasi Passing Grade-nya tinggi gimana doong? No Pain, No Gain kalau kamu mau kamu harus usaha, lagian susahnya cuma di awal kok. #eh (6) Kak, share prospek kerja jurusan… *oke skip, lanjut*

  1. Ilmu Administrasi

Ada sebuah penelitian dari Jerman yang mengatakan sebuah negara tidak akan maju tanpa adanya orang-orang yang paham dan sangat tahu tentang sistem birokrasi. FIA UI adalah tempat paling tepat untuk belajar hal tersebut. Melalui FIA (dulu Departemen Ilmu Administrasi FISIP UI – sejak tahun 2015 FIA telah menjadi fakultas sendiri) telah banyak lahir tokoh-tokoh hebat, sebut saja Eko Prasojo atau lihat prestasi dirjen-dirjen (lulusan ADM tentunya) di banyak lembaga Negara. Nah, sayangnya pencapaian-pencapaian itu lebih banyak di klaim oleh orang-orang yang punya jabatan politis (bukan FISIP loh ya). Terdapat tiga masalah di Indonesia yang berkaitan dengan administrasi,

(1) Birokrasi yang semerawut;

(2) Minimnya Pengusaha Muda; dan

(3) Minimnya integritas para fiskus (orang pajak).

Tuh semuanya mewakili jurusan-jurusan yang ada di FIA (Negara, Niaga, Fiskal/Perpajakan). Intinya Indonesia butuh kamu, dan kalau kamu mau jadi bagian dari solusi itu maka bergabunglah bersama FIA #Asyeek.

Kuliah di FIA berarti belajar untuk banyak berkontribusi walau tanpa diketahui orang banyak. Mata kuliah yang ada di FIA sangat spesifik, dosen-dosennya kebanyakan praktisi dan ini sangat menunjang untuk masuk ke dunia kerja. Kalau masih ragu untuk memilih FIA, lihat saja jurusan yang sudah sangat spesifik dengan proyeksi pekerjaannya di masa depan, belum lagi kurikulum yang masih akan berkembang dikarenakan FIA yang merupakan fakultas baru. Keseruan belajar di FIA, kamu akan tahu celah-celah yang biasa digunakan penjahat-penjahat kelas kakap dalam konteks kenegaraan. Misalmya dengan jadi anak Fiskal/Perpajakan kamu akan tahu bagaimana banyaknya orang yang mengemplang pajak, dan kamu akan geregetan sendiri. Gimana enggak, coba pajak dikorupsi, padahal pembangunan masih belum merata, kemiskinan merajalela, dan kamu menjadi saksinya secara live action.

credit untuk Gery, Raga, Raihan, Wann, Eko, Kautsar dan Awwa untuk materi post ini 🙂

Selengkapnya mengenai fakultas di UI baca juga, Rumpun Sains dan Teknologi + Vokasi dan Rumpun Ilmu Kesehatan