Rehat

Standar

Bicara mengenai masyarakat perbatasan saya belajar banyak mengenai kesederhanaan. Air bersih adalah sesederhana air hujan. Tidak ada air yang mengalir melalui pipa-pipa paralon dan dihitung dengan meteran besi. Tanah adalah kepemilikan keluarga dan mudah untuk dibagi pada sanak keluarga. Tidak perlu sampai bersengketa di meja hijau dan memendam dendam tujuh tirunan setelahnya. Begitupun kebahagiaan begitu mudah mendapatkan senyuman dari cerita-cerita sederhana dan tembakau yang digulung bersama.

Bicara masalah cinta, mereka mencintai secara sederhana. Tidak ada cerita istri penuh harap dan cemas, mereka tahu suami mereka kalau tidak melaut… ya berkebun. Maka mereka tidak mengerti cerita cinta yang kompleks. Cerita cinta kompleks seperti ditampilkan di serial thapki atau anak jalanan merupakan hiburan yang sungguh menghibur.

Bicara tentang hubungan, ada beberapa hubungan lain yang tidak mereka mengerti. Seperti hubungan diplomatik bilateral, mereka tidak paham kenapa sekarang menyebrang ke negeri seberang begitu rumit. Padahal dahulu kala hanya butuh 15 menit menyebrang untuk bertemu famili maupun sekedar bertukar komoditas. Hasil alam segar ditukar beberapa kompek sembako subsidi, tabung gas petronas dan beberapa lembar ringgit Malaysia.

Saat pengawasan perbatasan diperketat dan tidak lagi bisa lintas. Mereka tidak mengerti. Kenapa marine dan polis begitu kasar pada indon, kenapa harus dipukuli sampai babak belur baru dipulangkan. Bukannya kita serumpun dan konon bersaudara?

Hubungan yang rumit dalam kegiatan ekonomi juga tampaknya sulit dimengerti. Kegiatan ekonomi bagi masyarakat perbatasan adalah sesederhana jual dan beli. 

Padahal mencinta begitu sederhana. Saling memberi pada sebuah kesetaraan atau setidaknya frekuensi yang (disepakati) sama. 

Ingin rasanya berkasih mesra dengan pasar. 

Sayangnya mekanisme pasar tidak sesederhana itu. Begitupun saat petani rumput laut harus gulung tali karena harga terjun bebas, pasar tidak mau tahu. “Kenapa ai itu penawaran sampai jatuh, dulu bisa dapat 18ribu kenapa sekarang cuma dapat 4ribu?”.


Bahasa pasar saat ini masih terlalu tinggi. Padahal bahasa pasar adalah bahasa universal, bahasa modal. Akan tetapi, segelintir saja yang sedikit mengerti karena berkawan dengan touke dari negeri seberang. Pun harapan untuk dicomblangi oleh pemerintah masih menjadi harapan kosong. 

“Maaf terlalu banyak yang harus kami comblangi!”, begitulah kira-kira jawab pemerintah.
Ketulusan dan kesederhanaan tidak beriringan dengan logika penawaran-permintaan. Hubungan yang terlalu rumit memang menjemukan. Apalagi ketika sudah membuat luka. Ketika hubungan terlalu menyakitkan bagi satu pihak maka tidak mengerankan bila hubungan harus berakhir.

Tapi pasar begitu posesif, dia tidak mengerti arti melepaskan yang dia pahami hanyalah kepemilikan. Melepaskan berarti merugi. Maka saat ini biarlah kita rehat dulu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s