Visual-Sejarah dari Poster Propaganda

Standar

There is nothing new in the world except the history you do not know.” – Harry S Truman

Well I couldn’t agree more sir, except the history itself often biased, distorted, and fragmented. Adalah sebuah keniscayaan sebuah cerita sejarah dituliskan oleh pemenang. Kita bangsa Indonesia adalah bangsa yang menang. Benarkah kita pemenang? Oh tentu kita harus bangga menyatakan bahwa kita adalah pemenang. Setidaknya sejak Soekarno membacakan teks proklamasi. Tapi apakah sejarah Indonesia saat ini sudah merefleksikan bangsa pemenang? Yaa.. ini cuma pertanyaan retoris, tidak perlu dijawab, dan saya juga tidak punya jawaban.

Saat tulisan ini dibuat, sudah 71 tahun kemerdekaan, tapi saya pribadi masih asing dengan sejarah bangsa ini. Bahkan saya mempertanyakan pada diri sendiri, sudah seberapa jauh kita tahu tentang sejarah bangsa? em.. negara? negara-bangsa? bangsa negara? ah sudahlah. Asing dalam artian, saya merasa jauh, dan merasa banyak episode-episode yang dilewatkan dalam penuturan sejarah bangsa ini.

Sebagai bangsa yang merdeka saya rasa sudah saatnya untuk menbicarakan sejarah secara terbuka. Faktanya mulai banyak yang menuliskan dan mencoba menceritakan ulang sejarah Indonesia. Asvi Warman Adam, Malcolm Caldwell & Ernest Utrecht, dan berbagai tokoh kenamaan lainnya sudah melakukan suatu upaya penafsiran atau penulisan ulang terhadap sejarah Indonesia. Kita bisa sebut ini sebagai upaya dekonstruksi atau penulisan (wacana) sejarah alternatif untuk menandingi wacana “sejarah Noto” yang secara turun temurun diajarkan pada kita melalui buku-buku sejarah di bangku sekolah. Selama ini banyak identitas kedaerahan harus rela tidak banyak dimunculkan dalam narasi sejarah bangsa, dengan pengecualian sejarah jawa (karena wacana nusantara-nya majapahit lah yang paling dekat dengan wacana NKRI pada masa ini).

Menuliskan ulang sejarah tentu bukan perkara mudah, tapi setidaknya kita dapat menelusurinya dari jejak-jejak yang ada. Salah satunya adalah, melalui arsip visual yang ada! Arsip visual tampaknya remeh, namun memiliki kekuatan yang besar. Karena didalamnya terdapat informasi-informasi latar belakang sosial-budaya-bahkan ideologis dari pembuatnya yang tersamar pada pilihan warna, fontasi, ekspresi, bingkai, gestur, komposisi dan sebagainya. Yang pada akhirnya mewujud sebagai sebuah wacana. Banyak informasi yang bisa kita dapatkan dari arsip visual dan nyatanya banyak dari arsip visual perjalanan sejarah kemerdekaan ini yang belum diketahui umum.

Sebagai gambaran, tentunya kita familiar dengan dua poster propaganda perang dunia oleh amerika serikat dibawah ini. Dua poster ini bahkan masih sering direplikasi dan digunakan dalam konteks waktu saat ini.

Apakah kita -Indonesia- tidak punya poster propaganda seperti ini? Ternyata kita punya! (foto ini diambil dari pameran foto di Galeri Antara, Pasar Baru)

Sekilas gambar-gambar diatas tidak ada bedanya dengan street-art atau pola baju cukil pada masa kini. Tapi dengan melihat detil-detil simbol yang ditampilkan pada poster tersebut banyak hal yang dapat kita tarik. Setidak-tidaknya sebagai bahan diskusi, kalau bukan penelitian lebih lanjut. Mari kita lihat dari poster pertama di sebelah kiri. Warna merah dan fontasi tebal yang menggambarkan peringatan yang sangat serius. Pisau dan Pistol menjadi simbol ancaman yang nyata bagi penghianat. Penggambaran darah segar yang menetes dari pisau sebagai simbolisasi tanda seru. Asap yang mengepul dari pistol seri Lugger menegaskan bahwa geriliya tidak segan-segan menghabisi penghianat yang membantu belanda. Penggambaran sosok laki-laki berotot menegaskan sosok heroik, maskulin, dan kejantanan pejuang geriliya. Gestur berkacak pinggang memberikan kesan bahwa menghabisi penghianat merupakan hal yang mudah bagi geriliya. Kemudian sentuhan wajah yang tidak digambarkan jelas menegaskan pesan 1000 mata – bahwa mata geriliya bisa jadi siapa saja.

Bendingkan dengan poster berikutnya disebelah kanan, tidak ada penegasan kesan maskulin, kejantanan maupun heroisme. Buat apa musuh digambarkan sebagai sosok menakutkan? Kita juga mendapatkan penggambaran yang lebih eksplisit terkait siapa sebenarnya yang dituju pada poster pertama. Yap, etnis tionghoa. Walaupun demikian kita dapat melihat bahwa melalui pemilihan kata, etnis tionghoa dianggap sebagai bagian dari bangsa Indonesia – tetapi mereka melakukan kealpaan – oleh karena itulah geriliya mengajak orang-orang tionghoa untuk sadar bahsa mereka diperalat oleh Belanda. Kata “insyaflah” merupakan penegasan bahwa tindakan yang membantu belanda dapat dimaafkan dan geriliya menerima dengan tangan terbuka bagi mereka yang kembali pada garis perjuangan.

Walaupun, kemudian saya bertanya-tanya… Mengapa ada sentimen kecurigaan kepada kelompok tionghoa? Kenapa bukan pada penguasa lokal-pribumi yang korup? Apakah tidak ada penguasa lokal-pribumi (maaf saya tidak dapat menemukan padanan kata yang pas) yang berkomplot dengan belanda. Saya rasa tidak, saya yakin ada. Mengingat ketamakan dan kultur KKN sudah diwariskan jauh sejak kapitalisme menginjakan kakinya di bumi nusantara oleh kumpeni-kumpeni VOC. Apakah ini hasil devide-et -empera? Lagi-lagi pertanyaan yang tidak bisa saya jawab. Ini perlu kajian lanjutan yang lebih serius.

Sebuah eskalasi yang sangat cepat dari membicarakan sejarah Indonesia sampai gesekan etnis pada masa kemerdekaan. Semua gara-gara poster propaganda, remeh, tapi menyimpan kekuatan wacana yang kuat.

Selama ini seakan-akan kita trauma, segan, takut membicarakan entis tionghoa karena wacana SARA dan tragedi ’98. Ini topik sensitif bung! Akan tetapi kita dapat melihat bahwa nyatanya kecurigaan dan sentimen tersebut sudah tertanam sejak jaman melawan Belanda. Kalau ada yang bilang sentimen ini muncul karena politik pembagian peran pada Orde Baru. Maka saya dapat katakan bahwa hal ini bukan barang baru. Toh ada bukti sejarahnya. Saya tegaskan (walau terlambat) bahwa tulisan ini bukan tulisan pemantik kebencian. Kita harus fair dan terbuka membicarakan hal ini dalam konteks sejarah bangsa. Karena apabila tidak selamanya kita akan terus curiga dan terfragmentasi satu sama lain. Kalau ngakunya satu bangsa, bangsa Indonesia ya mari berdamai dengan sejarah, alih-alih saling curiga mari bergandengan tangan untuk memajukan bangsa.

Naif? Memang.

 

Catatan: Sebenarnya saya cuma mau bilang bahwa banyak #sisilain dari sejarah Indonesia yang belum kita ketahui. Dan kita dapat melakukan penelusuran sambil wisata melalui penelusuran arsip visual. That’s It.

Arsip-arsip tersebut saat ini sedang dipamerkan di Pameran 71th RI Bingkisan Revolusi, Galeri Foto Antara dan Pameran lukisan istana: Goresan juang kemerdekaan 17:71 di Galeri Nasional. Jika ada waktu lebih, maka tidak ada ruginya menyelami sejarah bangsa lebih jauh melalui perjalanan visual. Bersiaplah untuk tercengang!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s