Terorisme: Musuh dalam Selimut (Part IV: Awas Bahaya Fitnah Khawarij)

Standar

Sebelumnya, Saya termasuk orang yang percaya bahwa Dajjal diasosiasikan pada Negeri Super Power Amerika dibawah kendali Zionis Illuminati (Yes ada masa-masa dimana teori konspirasi apokaliptik begitu keren dan mencerahkan haha). Akan tetapi, setelah serangkaian kejadian aksi teror yang terjadi, saya merasa sepertinya serangkaian aksi teror ini justru sama berbahaya atau bahkan lebih berbahaya. Karena fitnahnya berasal dari kaum sendiri yang beragama Islam, menggunakan simbol-simbol Islam, dan Beribadah dengan cara Islam.

Setelah membaca beberapa literatur saya akhirnya menemukan sebuah konsep Khawarij dalam Islam. Inilah yang menjadi turunan dari judul Musuh Dalam Selimut. Terdapat tiga pendapat terkait kemunculan kaum ini ada yang mengatakan sudah ada sejak Jaman Rasul SAW, ada yang mengatakan muncul pada jaman usman, yang lebih populer mengatakan muncul pada jaman kekhalifahan Ali.

Dengan adanya kaum khawarij yang mendompleng Islam ya, mari kita akui bersama, bahwa melawan teror merupakan tanggung jawab kita juga sebagai umat Islam, (mengutip Tweet Cania Citta Irlaine dan warganet lainnya), Terrorism has no religion but Terrorist Have. Tapi apakah pewacanaan teror yang dilekatkan kepada Islam harus diperkuat stigmanya? Saya rasa tidak.

Sentimen ini sebagai pengakuan bahwa ada yang harus dintrospeksi, tapi untuk menggeneralisir Islam secara keseluruhan saya tidak sepakat.

Secara singkat kaum khawarij merupakan golongan yang beragama Islam, tetapi dengan tafsir dan cara memahami Al Qur’an dan As Sunnah yang salah, mereka bersikap takfiri yakni mengkafirkan umat Islam yang tidak sepaham (sependapat) dengan mereka dan berujung menghalalkan darah atau membunuhnya.

Sebagai penutup bagian ini saya tidak akan berpanjang lebar dan mengundang pembaca yang budiman untuk berdiskusi. Jujur terutama untuk konsepsi-konsepsi secara spesifik ini saya masih sagat kurang. Jadi saya undang semua untuk memberikan referensi bacaan, tanggapan, saran, kritik maupun bantahan.

Sebagai bonus saya berikan ciri-ciri kaum Khawarij (yang memiliki ciri-ciri lekat dengan kelompok/pelaku teror) yang saya kutip dari buku kumpulan Fatwa tentang Terorisme. Mungkin bisa menjadi panduan atau checklist (biar kekinian) membedakan golongan Islamnya Teroris (khawarij) dengan Islam yang merupakan rahmatan lil-alamin. Wallahu alam bisawab.

Ciri-Ciri Kaum Khawarij

  1. Kaum khawarij berusia muda.[i]
  2. Mereka berpemikiran dangkal.[ii]
  3. Mereka berjanggut lebat.[iii]
  4. Mereka memakai kain (celana) yang menggantung di atas mata kakinya.[iv]
  5. Mereka akan keluar dari arah timur.[v]
  6. Mereka akan terus bermunculan sampai generasi terakhir mereka muncul bersama Al-Masih Al-Dajjal.[vi]
  7. Iman mereka hanya sebatas kerongkongan mereka (artinya keimanan mereka sangat dangkal dan kualitas iman mereka tidak sesuai dengan tampilan lahiriyahnya).[vii]
  8. Mereka sangat berlebihan dan kaku dalam urusan agama.[viii]
  9. Orang mukmin akan merasa rendah diri jika membandingkan shalat dan shaumnya dengan shalat dan shaum mereka (kaum khawarij).[ix]
  10. Shalat mereka hanya sebatas kerongkongan (artinya shalat mereka tidak berpengaruh terhadap karakter dan akhlak mereka).[x]
  11. Mereka akan membaca Al-Quran, bahkan bacaan kalian tidak seberapa jika dibandingkan dengan bacaan mereka.[xi]
  12. Bacaan Al-Quran mereka hanya sebatas kerongkongan.[xii]
  13. Mereka membaca Al-Quran dan menyangka Al-Quran akan membela mereka, padahal Al-Quran akan melawan mereka.[xiii]
  14. Mereka nampak mengajak manusia kembali kepada Al-Quran, padahal Al-Quran tidak memiliki hubungan apapun dengan mereka.[xiv]
  15. Mereka akan berkata dengan perkataan manusia yang paling baik (artinya mereka akan menggunakan slogan agama dan [xv]membuat perintah-perintah agama).[xvi]
  16. Slogan dan pretensi mereka akan lebih baik dari orang lain, bahkan sangat berpengaruh.[xvii]
  17. Mereka akan berperilaku buruk (selalu memaksa, haus darah, dan menyukai kekerasan).[xviii]
  18. Mereka adalah makhluk terburuk.[xix]
  19. Mereka akan melaknat pemerintah kemudian menyatakan bahwa mereka telah tersesat.[xx]
  20. Mereka akan muncul ketika manusia berada dalam konflik.[xxi]
  21. Mereka menumpahkan darah-darah haram (artinya mereka meyakini bahwa membunuh warga sipil muslim dan non-muslim adalah dibolehkan).[xxii]
  22. Mereka akan memblokade/meneror di jalan-jalan, menumpahkan darah tanpa otoritas agama, kemudian mereka akan melegalkan pembunuhan warga sipil non-muslim (sebagaimana perkataan A’isyah).[xxiii]
  23. Mereka beriman kepada ayat-ayat mukhamat dan terjerumus sesat dalam ayat-ayat mutasyabihat (sebagaimana perkataan Ibnu Umar).[xxiv]
  24. Mereka akan mengatakan sesuatu yang benar hanya sebatas kerongkongan mereka saja (sebagaimana perkataan Ali).[xxv]
  25. Mereka akan mengutip ayat yang diturunkan kepada orang kafir, kemudian mereka menerapkannya terhadap orang-orang mukmin (sebagaimana perkataan Ibnu Umar).[xxvi]
  26. Mereka keluar sangat cepat dari Agama, seperti anak panah yang melesat dari busurnya.[xxvii]
  27. Pahala besar bagi orang yang bisa membunuh mereka.[xxviii]
  28. Korban terbaik adalah orang yang dibunuh oleh mereka.[xxix]
  29. Mereka (kaum Khawarij) adalah korban terburuk di kolong langit.[xxx]
  30. Mereka adalah Anjing Neraka.[xxxi]
  31. Mereka menyatakan wajib untuk menggelorakan pemberontakan bersenjata melawan pemerintah buruk dan zalim.[xxxii]
  32. Mereka menyatakan bahwa muslim yang melakukan dosa besar adalah kafir.[xxxiii]
  33. Mereka menyatakan bahwa membunuh dan menjarah muslim pelaku dosa besar adalah halal.
  34. Mereka akan berkumpul di tempat-tempat tertentu sebagai pusat aktivitas terorisme –seperti menggunakan Harurah sebagai markasnya.[xxxiv]
  35. Mereka menolak semua bentuk negosiasi dengan pihak musuh.[xxxv]

 

catatan kaki

[i] HR. Al-Bukhari dalam Al-Shahih: Kitab Anjuran Bertaubat dan Memerangi Para Murtadin dan Perusuh. Bab: Memerangi Khawarij dan Ahli Bidah Setelah Terkumpul Bukti-Bukti, 6:2539 hadist ke 6531; Muslim dalam Al-Shahih: Kitab Al-Zakat, Bab: Anjuran Memerangi Khawarij, 2:746 hadist ke 1066

[ii] Ibid

[iii] HR. Al-Bukhari dalam Al-Shahih: Kitab Al-Maghazi, Bab: Diutusnya Ali dan Khalid Sebelum Haji Wada’, 4:1581 hadist ke 4094; dan Muslim dalam Al-Shahih: Kitab Al-Zakat, Bab: Khawarij dan Kualitas Mereka, 2:742 hadist ke 1064

[iv] Ibid

[v] HR. Al-Bukhari dalam Al-Shahih: Kitab Al-Tauhid, Bab: Bacaan, Tilawah, dan Suara Al-Quran orang-orang Munafik Hanya sebatas di Kerongkongan Mereka, 6:2748 hadist ke 7123.

[vi] HR. An-Nasa’i dalam Al-Sunan: Kitab Tahrim Al-Dam, Bab: Tentang Seseorang yang menghunus Pedang dan Memamerkannya kepada orang-orang, 7:119 hadist ke 4103.

[vii] HR. Al-Bukhari dalam Al-Shahih: Kitab Anjuran Bertaubat dan Memerangi Para Murtadin dan Perusuh. Bab: Memerangi Khawarij dan Ahli Bidah Setelah Terkumpul Bukti-Bukti, 6:2539 hadist ke 6531; Muslim dalam Al-Shahih: Kitab Al-0Zakat, Bab: Anjuran Memerangi Khawarij, 2:746 hadist ke 1066.

[viii] HR. Abu Ya’la dalam Al-Musnad, 1;90 hadist ke90; dan ‘Abdu Al-Razzaq dalam Al-Mushannaf, 10:155 hadist ke 18673

[ix] HR. Bukhari dalam Al-Shahih: Kitab Tatakrama, Bab: Hadist-hadist Rasulullah S.A.W tentang, “Celakalah Kalian”, 5:2281 hadist ke 5811; dan Kitab Anjuran Bertaubat dan Memerangi Para Murtadin dan Perusuh, Bab: Orang yang Meninggalkan Perintah Memerangi Khawarij Karena Kasihan dan Karena takut Dijauhi Orang Lain, 6:2540 hadist ke 6534; dan Muslim dalam Al-Shahih: Kitab Al-Zakat, Bab; Tentang Khawarij dan Kualitas Mereka, 2:744 hadist ke 1064.

[x] HR. Muslim  dalam Al-Shahih: Kitab Al-Zakat, Bab: Anjuran Memerangi Khawarij, 2:744 Hadist ke 1066

[xi] Ibid

[xii] HR. Al-Bukhari dalam Al-Shahih: Kitab Anjuran Bertaubat dan Memerangi Para Murtadin dan Perusuh, Bab: Membunuh Khawarij dan Ahli Bidah Setelah Terkumpul Bukti-Bukti, 6:2540 hadist ke 6532; dan Muslim dalam Al-Shahih, Kitab: Al-Zakat, Bab: Tentang Khawarij dan Kualitas Mereka, 2:743 hadist ke 1064

[xiii] HR. Muslim dalam Al-Shahih: Kitab Al-Zakat, Bab: Anjuran Memerangi Khawarij, 2:748 Hadist ke 1068

[xiv] HR. Abu Dawud dalam Al-Sunan: Kitab Al-Sunnah, Bab: Memerangi khawarij, 4:243 hadist ke 4765

[xv] HR. Al-Bukhari dalam Al-Shahih: Kitab Anjuran Bertaubat dan Memerangi Para Murtadin dan Perusuh, Bab: Membunuh Khawarij dan Ahli Bidah Setelah Terkumpul Bukti-Bukti, 6:2539 hadist ke 6531; dan Muslim  dalam Al-Shahih: Kitab Al-Zakat, Bab: Anjuran Memerangi Khawarij, 2:746 Hadist ke 1066

[xvi] HR. Tabrani dalam Al-Mu’jam al-Ausath, 6:168 hadist ke 6142

[xvii] HR Abu-Dawud dalam Al-Sunan: Kitab Al-Sunnah, Bab: Memerangi Khawarij, 4:243 Hadist ke 4765

[xviii] HR. Muslim dalam Al-Shahih: Kitab Al-Zakat, Bab: Khawarij adalah Makhluk Terburuk, 2:750 Hadist ke 1067

[xix] HR. Ibnu Abu-Ashim dalam Al-Sunnah, 2:455 hadist ke934; dan Al-Haitsami, Majma Al-Zawa’id, 6:228. “Kemudian Ia Berkata ini adalah hadist yang Shahih”

[xx] HR. Al-Bukhari dalam Al-Shahih, Kitab: Al-Manaqib, Bab: Tanda-tanda Kenabian, 3:1321 hadist ke 3414; dan Muslim dalam Al-Shahih, Kitab Al-Zakat Bab: Tentang Khawarij dan Kualitas Mereka, 2:744 hadist ke 1064

[xxi] HR. Muslim dalam Al-Shahih: Kitab Al-Zakat, Bab: Anjuran Memerangi Khawarij, 2:748 Hadist ke 1066

[xxii] HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 2:166 hadist ke 2657

[xxiii] HR. Al-Thabari dalam Jami Al-Bayan fiTafsir Al-Quran, 3:181; dan Al-Aqsalani dalam Fath Al-Bari, 12:300

[xxiv] HR. Muslim dalam Al-Shahih: Kitab Al-Zakat, Bab: Anjuran Memerangi Khawarij, 2:749 Hadist ke 1066

[xxv] HR. Al-Bukhari dalam Al-Shahih: Kitab Anjuran Bertaubat dan Memerangi Para Murtadin dan Perusuh, Bab: Membunuh Khawarij dan Ahli Bidah Setelah Terkumpul Bukti-Bukti, 6:2539 hadist ke 6531; dan Muslim dalam Al-Shahih: Kitab Al-Zakat, Bab: Anjuran Memerangi Khawarij, 2:746 Hadist ke 1066

[xxvi] HR. Muslim dalam Al-Shahih: Kitab Al-Zakat, Bab: Anjuran Memerangi Khawarij, 2:748 Hadist ke 1066

[xxvii] HR. Tirmidzi dalam Al-Sunan: Kitab Tafsir Al-Quran, Bab: Dari Surat Ali Imran, 5:226 Hadist ke 3000.

[xxviii] Ibid.

[xxix] Ibid.

[xxx] HR. Abdu Al-Qahir Al-Baghdadi dalam Al-Farqu baina Al-Firaq, hal. 73 dan Ibnu Taimiyyah dalam Majmu Al-Fatawa, 13:31

[xxxi] Dikutip dari buku kumpulan Fatwa tentang Terorisme

[xxxii] Dikutip dari buku kumpulan Fatwa tentang Terorisme

[xxxiii] Dikutip dari buku kumpulan Fatwa tentang Terorisme

[xxxiv] Dikutip dari buku kumpulan Fatwa tentang Terorisme

[xxxv] Dikutip dari buku kumpulan Fatwa tentang Terorisme

Iklan

Terorisme: Musuh dalam Selimut (Part III: Hasil dari pembiaran yang berlarut)

Standar

Pada tulisan sebelumnya (PART 2), saya mencoba mengurai sejarah singkat Terorisme di Indonesia. Perlu diakui sejarah tersebut masih sangat kasar dan masih terdapat lubang-lubang yang belum terisi. Karena agak rumit memang, untuk merunut perkembangan gelombang Terorisme perlu riset yang kuat. Sementara pada konteks di Indonesia, permasalahan literatur yang terbatas, akses terhadap sumber primer, bias statement di media dan kendala-kendala lainnya menjadi tantangan tersendiri. Ini belum menghitung faktor proxy dan relasi kepentingan elit global.

Kembali kepada Tajuk utama dan niatan awal untuk menulis, yaitu menuangkan kegelisahan terhadap serangkaian aksi Terorisme yang terjadi akhir-akhir ini. Salah satu tanda pagar yang juga muncul adalah #TerrorismHasNoReligion atau #TerorismeBukanIslam. Tanda pagar ini membagunkan saya dari keacuhan. Bahwa sebagai mayoritas kita (baca: umat islam) takut menghadapi kenyataan bahwa pelaku teror jelas-jelas mayoritas beragama Islam (kecuali satu pelaku bom Alam Sutera) dan digerakan oleh motif Ideologis dan penafsiran Islam (yang tidak mainstream tentunya). Tagar #TerrorismHasNoReligion atau #TerorismeBukanIslam menjadi upaya kabur dengan dalih, lihat perbuatannya bukan label agamanya.

Pada konteks yang lain kita begitu gagah berani menerapkan standar atau label Islam secara brutal. Tidak harus konteks politik sektarian, penerapan peraturan syariah di berbagai lini kehidupan, ceramah tensi tinggi di ruang publik dengan konten memerangi kaum kafir. Belum lagi dengan syiar Islam Fundamental yang begitu penuh menyesaki dunia maya pada akhir-akhir ini.

Bahkan wacana intoleransi (secara lebih lanjut: penyebaran konten radikal) ini seakan tidak tertandingi, karena minimnya wacana pembanding terhadapnya yang dipertandingkan secara konsisten. Selain itu, sulit rasanya mengharapkan khalayak untuk memfilter karena literasi media di Indonesia masih kurang. Apalagi kalau kontennya agama, secara otomatis kita mengaburkan batasan-batasan dan menelan bulat-bulat konten yang disampaikan. Ketika ada batas-batas yang dilanggar malah resisten dan anti kritik, jangan kriminalisasi ulama kami! (tapi juga jangan jadi subversif kayak orba tentunya).

Penyebaran benih-benih ideologi radikal teror: Siapa salah?

Salah satu pertanyaan utama yang saya ajukan pada diri sendiri ketika menulis tulisan ini. Mengapa seakan-akan jaringan dan pelaku teror ini memiliki ajian kebal Pancasona –sebelum semua anggota tubuh dikuburkan di bumi maka Ia akan tumbuh kembali. Pada pembahasan di dunia maya banyak yang menarik garis ke rohis sebagai wadah inkubasi, ada juga yang menarik garis ke Ikhwanul Muslimin dan anak ideologisnya baik yang bergerak dengan cara konstitusional (PK yang kemudian menjadi PKS) ataupun yang membawa semangat revolusi/ bergerak di luar sistem (HTI), sisanya menyerukan untuk kembali beraktifitas dan menjaga masjid-masjid dari aktifitas yang menyuburkan radikalisme. Tapi apakah kesimpulannya harus kesana?

Setelah sebelumnya kita membahas sejarah singkat terorisme di Indonesia. Kita dapat menarik kesimpulan. Bahwa pada akhirnya kader-kader DI/TII ini terpecah karena mazhab ideologis indoktrinasi dari ideologi Jamaah Islamiyah (Abdullah Sungkar), Pan-Islamisme IM (Hasan Al-Banna), Tandzimul Jihad (Sayyid Qutb) dan Jamaah Takfir wal Hijrah (Syukri Mustofa). Berganti figur berganti organisasi (semacam ganti presiden ganti kabinet tapi kaderisasi dan rekrutmen jalan terus).

Tapi kita tidak akan membahas kelompok-kelompok tersebut, kita juga tidak akan membahas manakah perjuangan islam yang murni atau asli, yang mau saya katakan akar dari aksi terorisme ini sudah begitu jauh mengakar dan terus diwariskan.

Kembali ke pertanyaan di atas, siapa yang salah? Saya nyatakan bahwa saya tidak menyalahkan gerakan dakwah, maupun organisasi-organisasi di atas, yang mau coba saya jelaskan pada bagian ini adalah Ekosistemnya ideal untuk Inkubasi paham radikal.

Kalau memang diwariskan kenapa tidak ada yang menolak? Sebelum beranjak ada baiknya pembaca yang budiman membaca dua tulisan dibawah ini terlebih dahulu.

https://www.dutaislam.com/2018/05/pengakuan-mengejutkan-adik-kelas-pelaku-bom-surabaya-tentang-calon-teroris-di-sma-sma.html

https://magdalene.co/news-1734-konservatisme-agama-di-sekolah-dan-kampus-negeri-picu-intoleransi.html

Setelah membaca tulisan di atas saya menawarkan 5 (lima) poin hipotesa atau asumsi yang menjadi faktor utama mengapa akhirnya benih-benih ini terus diwariskan:

  1. Kultur pendidikan agama

Secara kultural maupun institusional kita dibentuk untuk menjadi pribadi yang baik dengan diajarkan agama sejak dini. Akan tetapi pengajaran yang dilakukan tanpa ada kesempatan untuk kritis. Sejak kecil kita dibiasakan dengan pendidikan agama menggunakan metode doktrinasi. Pola pengajaran “Yakin dulu baru paham”, tapi tidak selesai dan seringkali berhenti pada tahapan yakin. Ketika beranjak kepada ranah pemahaman malah dikembalikan kepada keyakinan, bukan dibangun melalui proses berpikir menggunakan akal. Disinilah muncul faktor kerentanan individu untuk ditanamkan gagasan-gagasan radikal. Padahal keyakinan ranahnya tauhid, pada ranah yang lain daya kritis sangat dibutuhkan. Kalau tidak apa gunanya Ijma dan Ijtihad pada Islam?

  1. Infiltrasi sistem pendidikan

Sistem pendidikan yang kita kenal saat ini menggunakan pendekatan istitusional. Akan tetapi pada praktik gerakan dakwah bahkan sampai era modern saat ini. Sistem-sistem lama masih digunakan dengan pembaharuan pada operasionalnya. Misal lingkaran-lingkaran Liqo atau Halaqah yang mengadopsi pola pembelajaran saat Jaman Rasulullah SAW dahulu, atau Majelis-Majelis taklim yang polanya digunakan pada masa pengikut Islam sudah banyak dan keadaan lebih kondusif dalam berdakwah, sampai Institusi pendidikan formal negeri, pesantren, atau informal seperti salaf hampir semua lini digunakan. Sebagaimana dikatakan oleh Magdalene diatas jelas kita kalah langkah dalam mengantisipasi tumbuhnya Intoleransi di Sekolah Negeri. Institusi islam besar seperti NU dan Muhammadiyah asyik dengan Institusi Pendidikannya sendiri.

  1. Faktor intrinsik gerakan dakwah

Untuk hal ini saya menyarankan untuk tabbayun kepada orang-orang yang menggerakan gerakan-gerakan dakwah ini. Setelah melalui beberapa diskusi, saya jujur menaruh salut sama pola pendidikan (tarbiyah) yang diadaptasi oleh kelompok dakwah maupun yang terindikasi radikal. Kenapa? Karena So d*mn great, kompatibel to the max. Dalam artian siapapun figur, organisasi, ideologi yang dibawa, subjek yang dididik bisa “dipanen” oleh siapa aja. Dengan basis pemrograman yang mirip, akarnya historis yang sama, juga memiliki kesamaan pola (misal pendidikan dengan sistem sel, kaderisasi bertingkat, sikap sami’na wa ato’na, pola relasi mentor-mentee, dan tujuan akhir khilafah). Gambaran kasarnya, misalnya yang mendidik berafiliasi IM, orang HTI bisa memanen dengan menaikan tensi pendidikannya. Pada kasus lainnya, bisa jadi yang didik dari LDII naikin tensinya dikit jadi ISIS. Bisa juga saling silang, dari IM ke Salaf terus ke NII sampe baiat ISIS.

Walaupun tentu saja berbeda dalam Mazhab maupun teknis operasionalnya. Tapi benang merah semangat mendirikan Negara berlandaskan Syariat Islam ini menghasilkan hubungan simbiosis tanpa sadar (atau tanpa perlu diakui?). Karena yang bercita-cita untuk menegakan syariat Islam tidak hanya kelompok-kelompok di atas. Ambilah contoh kasar gerakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang memiliki solusi tunggal segala permasalahan bangsa dengan mendirikan khilafah atau Ikhwanul Muslimin (IM) yang juga memiliki cita-cita dakwah melalui politik dengan misi politik (konstitusional) melalui dakwah. Sehingga, pendidikan atau tarbiyah yang dilakukan akhirnya menjadi inkubasi universal siap panen. Dalam artian menjadi mudah saja untuk memanen sumber daya manusia untuk menjadi penggerak (atau simpatisan, atau pion, atau martir?) pada spektrum pergerakan Islam dari ekstrim paling kiri, tengah sampai yang paling kanan.

Saya sampai bertanya-tanya, apakah dulu Hasan Al-Banna ngerasa bakal jadi sebesar ini kah gerakan dan efek domino yang ditimbulkannya. Hahaha

  1. Status Quo yang membuat abai

Hal lainnya kita mengambil beberapa kondisi secara taken for granted. Misal Pancasila sebagai pemersatu, tapi tidak pernah dipikirkan bagaimana perkembangan pancasila sebagai Ideologi. Saya curiga dia mandek pada konsepsi dan jargon-jargon di tingkat elit. Padahal untuk menjadi ideologi yang kuat turunan aplikasinya juga harus kuat, baik dari sisi sosial, ekonomi atau budaya. Saya ragu apakah pancasila diuji secara rutin dalam kerangka pengembangan Ilmu Pengetahuan. Jadi pancasila yang praktikal, kalau kajian pancasila hanya pada epistemologis lalu kembali ke ontologis dan berputar-putar disana. Disitu sejarahnya berhenti berjalan. Mungkin perlu dilakukan sebuah riset terkait Branding Pancasila dewasa ini. Kenapa tidak? Toh, salah satu narasi pembuka yang digunakan jaringan teror dalam melakukan rekrutmen adalah kegagalan dari negara, atau sistem demokrasi atau bahkan pancasila itu sendiri. Nah kalau akademisi yang ditanya mungkin bisa jawab, kalau yang ditanya awam? Dari sana kemudian si Awam maju selangkah lebih dekat dengan ideologi radikal teror.

  1. Pengabaian atas 4 prakondisi diatas

Ibarat investasi, penanaman nilai (konteks garis keras tentunya) dan kaderisasi melalui lingkaran dakwah ini dilakan dengan prinsip Coumpound Interest. Apa itu Compound Interest? Dia adalah Bunga yang Berbunga adalah bunga yang dihitung atas jumlah pinjaman pokok ditambah bunga yang diperoleh sebelumnya. Compound Interest mengacu pada pembayaran bunga atas pokok dan bunganya yang selalu terakumulasi dari waktu ke waktu. Hasilnya memang tidak terlalu signifikan di awal, tetapi hasil akhirnya meningkat secara signifikan setelah bertahun berjalan. Kenapa konsep Compound Interest yang digunakan? Karena manusia saling berinteraksi, saling mempengaruhi dan berkembang biak.

Kemudian kita protes, pada wacana intoleransi, syiar-syiar Islam fundamental yang dianggap menyuburkan benih radikalisme. Sekali gagasan telah ditanam praktis tinggal menunggu waktu untuk tumbuh.

Pertanyaannya kapan terakhir kita menegur figur-figur tersebut? Kapan terakhir kali terlibat dalam kegiatan-kegiatan syiar? Kapan memberikan wacana-wacana penanding di ruang publik? Kapan investasi sosial atau mungkin tertarik membahas pancasila dan memgamalkannya (jebolan P4, PPKn dan PKn bersatulah!). Atau masih nyaman jadi silent reader? Hmmmm…. Kemudian Hening. COMPOUND INTEREST RULES!

Terorisme: Musuh dalam Selimut (Part II: Sekilas Terorisme di Indonesia)

Standar

Kita bisa menarik garis kelahiran terorisme ini sejak kejadian 9/11 karena sebelumnya konsep terorisme belum populer seperti sekarang ini. Dulu bahasa-bahasa yang digunakan adalah makar, pembajakan, tindakan subversif atau pemberontakan. Pada pembahasan sejarah di media mainstream (media massa nasional), BNPT membagi terorisme kedalam dua gelombang. Teroris gelombang pertama diasosiasikan sejak Al-Qaeda pertama kali muncul pada tahun tahun 1999, yang dilanjutkan Bom Bali pertama dan kedua, bom Kuningan dan lainnya. Sampai akhirnya mereda pada tahun 2009 saat Densus 88 berhasil menembak mati dr Azahari di Batu, Jawa Timur. Sementara Teroris gelombang kedua ditandai dengan dengan munculnya aksi-aksi terror terkait ISIS di Indonesia pasca bom di Sarinah Januari 2016. Santoso Abu Wardah yang kini mati ditembak polisi pun terkait jaringan ISIS di Indonesia. Yap! pembagiannya dilakukan secara dikotomis, ISIS dan non-ISIS.

Namun, terkait dengan penggolongan terorisme saya lebih sepakat dengan pendapat Guntur Romli yang membagi Terorisme di Indonesia kedalam 4 gelombang. Karena malas maka saya akan mencatut secara brutal dari Tulisan Guntur Romli di Facebooknya yang berjudul Teorisme di Indonesia Setelah Santoso Abu Wardah.

https://www.facebook.com/GunRomli/posts/10154481457560955

Gelombang terorisme pertama kali dimulai dari Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dengan tokohnya Kartosuwiryo yang merupakan cikal-bakal kelompok teroris di Indonesia. DI/TII adalah kelompok teroris lokal yang kemudian berevolusi setelah menerima sentuhan dari ideologi terorisme dari luar Indonesia.

Apabila kita merunut kronologi terorisme di Indonesia, makagelombang pertama adalah DI/TII, gelombang kedua: Jamaah Islamiyah (JI), gelombang ketiga: Al-Qaidah dan gelombang keempat: ISIS. Walaupun memiliki visi untuk menegakan Negara Islam di Indonesia, dalam praktiknya keempat gelombang ini sangat berbeda. Baik dalam merespon konflik di dalam Negeri, dinamika dan wacana politik global yang dibawa, maupun pembentukan sasaran dari aksi teror masing-masing gelombang yang dilakukan di Indonesia.

Gelombang pertama, DI/TII merespon situasi politik nasional yang belum stabil untuk mengambil momen dalam mendeklarasikan Negara Islam Indonesia (NII). Akan tetapi, setelah di tumpas oleh Korps Siliwangi pada masa itu, gagasan dan semangat untuk mendirikan NII tidaklah padam. Bahkan setelahnya pada medio 70-80an tercatat berbagai upaya untuk menghidupkan kembali DI, seperti yang dilakukan oleh Daud Bereuh di Aceh, maupun beberapa gejolak di Jakarta yang direspon cepat oleh rezim Soeharto (further reading: Kasus Tanjung Priok dan Talangsari -does it ring a bell anyone?).

https://tirto.id/mengenang-pembantaian-umat-di-talangsari-ckrJ

https://tirto.id/mengenang-33-tahun-tragedi-pembantaian-tanjung-priok-cwpi

Pada akhir tahun 80an, Dua orang tokoh muda DI Abdullah Sunkar dan Abu Bakar Baasyir bergabung dalam struktur DI. Dua orang tokoh inilah yang kemudian menjadi tokoh sentral JI. Abdullah Sunkar dan Abu Bakar Baasyir kemudian menemui Abu Sayyaf salah satu pimpinan jihad di Afganistan melawan Soviet. Dari sinilah terjalin koneksi antara JI dengan alumni Afganistan yang pada akhirnya bergabung dengan JI. Jebolan Afganistan ini menjadi salah satu corak gelombang teror JI pasca 9/11, yang memiliki setskill yang mumpuni mulai dari taktik perang, pelatihan militer, sampai perakitan senjata dan alat peledak dalam skala besar.

Sepak terjang JI di Indonesia dapat dikatakan dimulai pada sekitaran tahun 1998. Momen konflik sosial Ambon di respon oleh Jemaah Islamiyah, yang didirikan oleh Ustad Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Bas’ayir. Walaupun menurut pengakuan Nasir Abbas konflik Ambon bukan konflik agama, karena banyaknya anggota jemaah yang tergerak untuk berangkat ke Ambon. JI akhirnya memutuskan untuk mengkoordinir dan mengonsolidasikan pelatihan militer untuk membela Umat Islam di daerah konflik.

Perbedaan antar gelombang terorisme di Indonesia dapat dilihat melalui sasaran aksi yang dituju. Secara umum, sasaran musuh dari kelompok teror dibagi dua, yaitu “musuh jauh” dan “musuh dekat”. Pada konteks JI “musuh jauh” (al-‘aduww al-ba’id) yang berada di luar teritori Indonesia (contoh: timur tengah) dan “musuh dekat” (al-‘aduww al-qarib) yaitu yang berada di Indonesia. Bersamaan dengan keterpanggilan anggota JI untuk membela umat muslim yang berkonflik di Indonesia, Hambali (salah satu pemrakarsa bom bali) membawa seruan Osama bin Laden untuk melakukan pembalasan terhadap Amerika yang dianggap melakukan kezaliman kepada umat muslim.

Belum sempat direspon oleh JI, Abdullah Sungkar terlanjur meninggal dunia. Kehilangan sosok sentral, disinilah kemudian JI terpecah. Hambali yang didukung oleh alumni-alumni Afganistan menandai munculnya gelombang ketiga dengan membawa misi Al-Qaeda memiliki tujuan melawan imperialisme (baca: dominasi dan penguasaan) Amerika yang dianggap sedang menjajah negeri-negeri muslim.

Perbedaan Al-Qaeda dengan JI adalah generasi gelombang kedua berfokus untuk berjihad di daerah baik di dalam negeri maupun di timur tengah atas dasar solidaritas antar umat muslim. Pada konteks Al-Qaeda sasaran yang dituju adalah “musuh dekat” yaitu yang berada di Indonesia. Sehingga, sasaran mereka lebih ditujukan kepada representasi dari Amerika dan sekutunya itu sendiri. Hambali mendapat dukungan dari Muklas (Majelis Fatwa JI) yang kemudian menarik dukungan alumni Afganistan lain. Hasil dari penggalangan ini dapat kita lihat dari aksi teror bom Bali I dan II, Kedubes Australia, dan Hotel JW Marriot yang dilakukan dengan perencanaan matang, bom dengan daya ledak mumpuni dan sasaran target simbol-simbol dari Amerika dan Sekutunya.

Di sisi lain, Abu Bakar Baasyir meneruskan cita-cita mendirikan Negara Islam di Indonesia dengan mendirikan Majelis Mujahiddin Indonesia pada tahun 2000 dan kemudian berevolusi menjadi Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) pada tahun 2008. Organisasi inilah yang kemudian menjadi cikal bakal gelombang keempat terorisme di Indonesia yang berafiliasi dengan ISIS.

Pada perkembangannya, Abu Bakar Baasyir disinyalir diyakinkan oleh Aman Abdurrahman, Amir (pimpinan) ISIS di Indonesia. Singkat cerita, JAT berevolusi menjadi Jamaah Ansharud Daulah (JAD), dengan Daulah yang dimaksud adalah ISIS. Pada konteks ISIS perlawanan terhaadp “musuh jauh” dilakukan dengan berangkat ke Daulah/Negeri Syam (baik menjadi kombatan maupun sebagai sipil) untuk mewujudkan nubuat akhir zaman negara Islam dibawah Al-Mahdi.

Melemahnya ISIS pada akhir-akhir ini kemudian menguatkan aksi teror di dalam Negeri dengan menyasar “musuh dekat” yaitu rejim pemerintahan yang disebut thagut (kafir, tiran), dengan simbol-simbol yang disasar seperti aparat penegak hukum. Akan tetapi gerakan JAD (baca: afiliasi ISIS) tidak mendapat dukungan dari tokoh-tokoh kunci alumni Afganistan, secara pendanaan tidak sekuat generasi sebelumnya, tetapi secara indoktrinasi lebih kuat dari generasi sebelumnya.

Dugaan saya, Abu Bakar Baasyir berbaiat pada ISIS karena kesamaan visi ideologis mendirikan Negara Islam. Sementara, alumni Afganistan yang notabene merupakan kombatan yang sudah merasakan konflik secara nyata di medan perang menganggap bahwa secara umum Indonesia merupakan negara damai yang tidak cocok diterapkan perjuangan dengan Jihad Qital (baca: perang).

Konsekuensinya, pergerakan beraifiasi ISIS ini tidak memiliki tokoh-tokoh dengan kemampuan tempur setinggi alumni Afganistan, yang dikompensasi dengan pengetahuan Do-It-Yourself dari dunia maya. Selain itu mereka yang menjadi kombatan di Suriah belum sematang seniornya yang alumni Afganistan. Alhasil dalam melaksanakan aksi Terornya di Indonesia, terlihat pola-pola yang belum menunjukan kematangan, seperti kurangnya perencanaan, lebih mengedepankan kenekatan, narsis dalam pelatihan, maupun output yang hanya pada pelaksanaan aksi teror.

Terorisme: Musuh dalam Selimut (Part I: Intro)

Standar

Seminggu terakhir publik dikejutkan dengan beberapa aksi teror. Selasa, 08 Mei 2018 terjadi perlawanan dari tersangka tindak pidana terorisme (dan narapidana yang belum ditempatkan di Lembaga Pemasyarakatan) berlanjut ke penyandraan dan penguasaan 2 (dua) blok tahanan sampai mengakibatkan korban jiwa sebanyak 6 (enam) orang. 5 (lima) orang dari aparat kepolisian dan 1 (satu) orang dari tahanan. Belum sempat menarik nafas, Minggu pagi 13 Mei 2018 kita harus kembali menelan kenyataan pahit, terjadi aksi bom bunuh diri di 3 (tiga) gereja di Surabaya yang belakangan diketahui dilakukan oleh satu keluarga.

Menjadi catatan fenomena bom bunuh diri satu keluarga merupakan yang pertama terjadi. Biasanya perempuan memainkan peranan sentral pada rekrutmen. Sementara, anak-anak dan balita tidak pernah diikutsertakan dalam aksi bom bunuh diri.

Semenjak aksi perlawanan di Mako Brimob, seluruh lini masa di berbagai platform media sosial dipenuhi dengan postingan terkait, banyak diantaranya menyatakan bela sungkawa, tidak sedikit yang memaki, bahkan terdapat riak yang melantangkan bahwa apa yang terjadi tidak lebih dari sekedar drama pengalihan isu. Tanda Pagar pun bermunculan seperti #KamiBersamaPOLRI dan #KamiTidakTakut. Dengan kejadian bom bunuh diri di Surabaya maka tanda pagar #KamiTidakTakut kembali naik. Tapi ternyata itu hal tersebut belum menjadi penutup dari rangkaian aksi teror yang terjadi. Ketika tulisan ini dibuat, kembali terjadi ledakan bom di Belakang Polsek Polsek Taman Sidoarjo dan di area Polrestabes Surabaya (14/05/2018).

Jika demikian maka tanda pagar #KamiTidakTakut sudah tidak pas lagi. Sepertinya #KamiMuak lebih tepat.

Atau setidaknya Saya benar-benar muak.

Selain itu, excess of information dan meme-meme yang muncul di beranda media sosial sampai grup-grup WA akhirnya menimbulkan beberapa pertanyaan-pertanyaan.

Sebenenarnya bagaimana perjalanan sejarah aksi teror di Indonesia? Mengapa seakan-akan terorisme memiliki ajian kebal Pancasona –sebelum semua anggota tubuh dikuburkan di bumi maka Ia akan tumbuh kembali. Belum lagi pernyataan-pernyataan yang membuat saya tidak habis pikir dengan memanfaatkan momen duka sebagai arena akrobat politik. Lalu apa iya dosa rohis sebagitunya dalam menjadi wadah inkubasi untuk tumbuh kembang ideologi radikal? Terakhir untuk menganggapi wacana-wacana oleh pemeluk Islam yang menolak Pelaku teror sebagai bagian dari Umat Islam. Untuk itu saya mencoba mengurainya satu per satu.

Disclaimer: Seri tulisan ini merupakan serangkaian upaya pembangunan ilmu pengetahuan yang belum selesai, pembangunan sumber referensi yang belum selesai, bahkan beberapa diantaranya bisa dibilang lekat dengan asumsi, pandangan subjektif, kalaupun bukan keduanya, mungkin malah kesimpulan yang terburu-buru. Penulis sangat terbuka untuk tabbayun, direkomendasi referensi bacaan, tanggapan, saran, kritik maupun bantahan.

Link:

(Part I: Intro)

(Part II: Sekilas Terorisme di Indonesia)

(Part III: Hasil dari pembiaran yang berlarut)

(Part IV: Awas Bahaya Fitnah Khawarij)

Ode for Mother (2) – Kuku

Standar

Rough Sketch - Mangku

digitally painted with: paint tool SAI

Ibu apa kabar? Ibu masih di rumah sakit? Kuku sekarang udah dua tahun.

Kuku udah bisa manggil “abang nyala” bukan Bapi. Tapi masih bingung kalau ditanya.

Yaya: Kuku itu siapa namanya (nunjuk nyala)

Kuku: Abang Nyala

Yaya: Kalau itu kamar siapa? (nunjuk kamar nyala)

Kuku: Kamar Bapi

Ayah, Yaya (Aura) sama Ican (Lintar) suka ketawain kuku habis itu. Kuku ikut ketawa aja.

Kuku sekarang udah pinter, udah mulai belajar baca, udah tau huruf A. Udah mulai belajar ngaji dari upin-ipin, udah diajarin angka juga sama Yaya pake lagu.

Kuku kalau nonton gak boleh diganggu, kuku sukanya nonton upin-ipin, paw, thomas, Jarwo sama Jet.

Kuku suka main sama yaya tapi kuku gak mau kalah sama yaya, karena kuku udah gede.

Kuku seneng lari-lari, kuku sekarang gak mau digendong, kuku udah bisa jalan sendiri.

Karena Ibu masih sakit, sekarang kuku jadi anak Ayah, nempel terus sama Ayah.

Kuku kadang-kadang males makan, terus bikin Ayah pusing karena kuku gak mau makan nasi, tapi kuku udah makan Ayah! (makannya kemarin), yang penting kuku minum susu.

Kalau diajak solat sama Ayah kuku maunya main dulu, mau solatnya sama Yaya aja.

Kadang-kadang kuku nyariin Ican, “Ican kapan pulangnya?”, Ican di Depok sekolahnya jauh.

Udah dulu ya Bu, Kuku mau main dulu, main masak-masakan.

 

(ditulis di Depok, 22/8/2016 dan menunggu 4 bulan untuk dipublish pada momen hari ibu)

Rehat

Standar

Bicara mengenai masyarakat perbatasan saya belajar banyak mengenai kesederhanaan. Air bersih adalah sesederhana air hujan. Tidak ada air yang mengalir melalui pipa-pipa paralon dan dihitung dengan meteran besi. Tanah adalah kepemilikan keluarga dan mudah untuk dibagi pada sanak keluarga. Tidak perlu sampai bersengketa di meja hijau dan memendam dendam tujuh tirunan setelahnya. Begitupun kebahagiaan begitu mudah mendapatkan senyuman dari cerita-cerita sederhana dan tembakau yang digulung bersama.

Bicara masalah cinta, mereka mencintai secara sederhana. Tidak ada cerita istri penuh harap dan cemas, mereka tahu suami mereka kalau tidak melaut… ya berkebun. Maka mereka tidak mengerti cerita cinta yang kompleks. Cerita cinta kompleks seperti ditampilkan di serial thapki atau anak jalanan merupakan hiburan yang sungguh menghibur.

Bicara tentang hubungan, ada beberapa hubungan lain yang tidak mereka mengerti. Seperti hubungan diplomatik bilateral, mereka tidak paham kenapa sekarang menyebrang ke negeri seberang begitu rumit. Padahal dahulu kala hanya butuh 15 menit menyebrang untuk bertemu famili maupun sekedar bertukar komoditas. Hasil alam segar ditukar beberapa kompek sembako subsidi, tabung gas petronas dan beberapa lembar ringgit Malaysia.

Saat pengawasan perbatasan diperketat dan tidak lagi bisa lintas. Mereka tidak mengerti. Kenapa marine dan polis begitu kasar pada indon, kenapa harus dipukuli sampai babak belur baru dipulangkan. Bukannya kita serumpun dan konon bersaudara?

Hubungan yang rumit dalam kegiatan ekonomi juga tampaknya sulit dimengerti. Kegiatan ekonomi bagi masyarakat perbatasan adalah sesederhana jual dan beli. 

Padahal mencinta begitu sederhana. Saling memberi pada sebuah kesetaraan atau setidaknya frekuensi yang (disepakati) sama. 

Ingin rasanya berkasih mesra dengan pasar. 

Sayangnya mekanisme pasar tidak sesederhana itu. Begitupun saat petani rumput laut harus gulung tali karena harga terjun bebas, pasar tidak mau tahu. “Kenapa ai itu penawaran sampai jatuh, dulu bisa dapat 18ribu kenapa sekarang cuma dapat 4ribu?”.


Bahasa pasar saat ini masih terlalu tinggi. Padahal bahasa pasar adalah bahasa universal, bahasa modal. Akan tetapi, segelintir saja yang sedikit mengerti karena berkawan dengan touke dari negeri seberang. Pun harapan untuk dicomblangi oleh pemerintah masih menjadi harapan kosong. 

“Maaf terlalu banyak yang harus kami comblangi!”, begitulah kira-kira jawab pemerintah.
Ketulusan dan kesederhanaan tidak beriringan dengan logika penawaran-permintaan. Hubungan yang terlalu rumit memang menjemukan. Apalagi ketika sudah membuat luka. Ketika hubungan terlalu menyakitkan bagi satu pihak maka tidak mengerankan bila hubungan harus berakhir.

Tapi pasar begitu posesif, dia tidak mengerti arti melepaskan yang dia pahami hanyalah kepemilikan. Melepaskan berarti merugi. Maka saat ini biarlah kita rehat dulu.

Margonda dan Hierarki di Jalan

Standar

Jalanan seringkali menjadi potret ketidak-adilan hidup di kota-kota besar. Radjimo Sastro Wijono (2016) mengatakan bahwa terdapat hierarki pada (kehidupan) jalanan. Hierarki dapat kita pada siapa yang dapat mengakses jalan. Jalanan merupakan panggung yang mempertujukan kelas sosial. Siapa yang ada di tengah jalan? Mereka yang punya, yang bisa membeli kendaraan. Dan pembangunan selalu berangkat dari kepentingan mereka yang tengah jalan.

Hierarki ini kemudian menjelaskan bagaimana hak masyarakat atas kota (dan jalan) dan pemenuhannya oleh negara (melalui agen pemerintah-nya). Juga menjelaskan ketidak-adilan dalam pembangunan bagi masyarakat. Hal ini tergambar jelas dalam beberapa kebijakan, terutama yang ada di Depok karena kita menyoroti Margonda.

Wah, Depok macet! Apa solusinya? Pelebaran Jalan. Untuk siapa pelebaran jalan? Untuk mereka yang ditengah jalan tentunya. Ruang-ruang kehidupan yang ada di pinggir jalan yang menghambat lalu-lintas juga tentu harus ditertibkan. Sekali lagi, untuk mereka yang ditengah jalan. Hei ada! Pejalan kaki, mereka butuh udara segar. Ya.. Siapa suruh jalan kaki. Pejalan kaki, termasuk para penyebrang jalan (dan pedagang asongan, penjaja makanan, anak yang hidup dijalan, dsb.) merupakan kasta kelas dua di jalanan. Sebagaimana nasib kasta kelas dua di negara-negara yang dikategorikan berkembang, seringkali tidak sadar menjadi korban. Bahkan ketika sudah ada kejadian nyata yang “memakan korban”.

Dua hari yang lalu, tepatnya 21 Agustus 2016 pukul 01.25, Fevi seorang mahasiswa baru Farmasi UI kembali ke pangkuan-Nya setelah sebelumnya mengalami koma selama satu minggu. Penyebabnya, Fevi ditabrak oleh pengendara motor pada 14 Agustus 2016 sekitar pukul 13.30 di jalan Margonda. Setelahnya beragam reaksi bermunculan, mulai dari mereka yang menyerukan perbaikan fasilitas, mengingatkan pengguna jalan (yang jalan kaki) untuk lebih berhati-hati, mengutuk pengguna jalan (yang gak jalan kaki) yang seringkali gak mau ngasih jalan sama penyebrang, dan beberapa yang menyalahkan korban (dan takdir).

Bagi jalan Margonda di Depok, kecelakaan yang menimpa penyebrang jalan bukan hanya terjadi kali pada Fevi saja. Setidaknya ada beberapa kejadian yang juga menimpa orang-orang disekitar saya. Dan sungguh biaya rumah sakit (terutama rumah sakit yang ada di Jalan Margonda) tidaklah murah. Sama sekali tidak. Setiap upaya penggalangan dana kita butuh puluhan juta-sekali lagi-PULUHAN JUTA.

Tapi bukan itu fokus yang ingin saya bahas hari ini. Hmm, sampai mana tadi?

Aaah… Sungguh malang nasib kasta kelas dua, mau kemana-mana akses susah. Mau mengakses jalan, harus bertaruh nyawa. Mau rekreasi atau olahraga di jalan biar sehat, nyatanya malah kena ISPA. Mau mengakses penghidupan dari jalan, harus siap-siap ditertibkan. Mau mengakses fasilitas kesehatan karena kecelakaan di jalan, jangan harap kalau kamu miskin!

Akhirnya saya setuju dengan analisis mas Radjimo dan akhirnya saya tidak habis pikir pada sebuah kecelakaan (yang melibatkan pengguna jalan yang jalan kaki) kok masih bisa menyalahkan korban (yang ditabrak). Sejak kapan nyawa manusia menjadi tidak lebih berharga daripada beberapa detik yang harus dikorbankan untuk berhentinya kendaraan untuk memberi lewat. Kalau diadu-pun antara manusia dengan mesin-berangka-dan-beroda itu maka saya rasa pasti manusianya yang kalah. Oh! semua jelas sekarang, karena yang bawa kendaraan lebih punya power (kuasa) dan pengguna jalan pasti kalah, maka pengguna-jalanlah yang harus mengalah.

myhome

Jadi untuk pejalan kaki (terutama penyebrang jalan)… Pemenuhan hak atas kota? Akses terhadap jalan? Sepertinya kamu harus menunggu, tunggu sampai kamu menjadi kasta nomor satu, menjadi mereka yang ditengah jalan.

Untuk sekarang gunakanlah jurus “tangan tuhan” ketika menyebrang, jangan lupa lihat kiri kanan saat menyebrang karena keberhasilan jurus “tangan tuhan” sangat dipengaruhi oleh timing. Lepas timing nyawa melayang. Sebisa mungkin lakukan jurus ini bersama-sama untuk menambah kekuatannya. Semoga beruntung.

Referensi: Persentasi Radjimo Sastro Wijono (2016) pada Simposium Internasional Jurnal Antropologi Indonesia ke 6, Depok, Universitas Indonesia.